Tertekan Rupiah & Harga Minyak, Defisit APBN Berpotensi Tembus 3%
Pramesti Regita Cindy
28 October 2026 18:00

Bloomberg Technoz, Jakarta - Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 berpotensi menembus batas 3% terhadap produk domestik bruto (PDB), seperti diatur undang-undang, apabila tekanan pelemahan rupiah dan kenaikan harga minyak terus berlanjut hingga akhir tahun.
Ekonom Senior Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menilai risiko tersebut muncul di tengah target penerimaan negara pada kuartal IV-2026 yang sulit tercapai, sementara pemerintah berencana menggenjot belanja negara untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
"Hingga Spetember 2026, defisit sudah mencapai Rp319 T, atau setara dengan 1,24% PDB. Sementara itu, target penerimaan negara sebesar Rp813 triliun di Q4 2026 akan sulit terwujud," kata Wijayanto kepada Bloomberg Technoz, Rabu (28/10/2026).
"Pada saat yang bersamaan, pemerintah akan mendongkrak belanja Q4 2026 hingga Rp1.300 triliun, untuk menstimulus pertumbuhan. Dalam situasi harga minyak yang terus tinggi dan rupiah yang terus melemah, maka ada potensi cukup moderat bahwa defisit akan melebihi treshold 3%," sambungnya.
Kalaupun pemerintah mampu menjaga defisit di bawah 3% PDB, Wijayanto tetap menyoroti adanya tantangan pembiayaan melalui penerbitan surat utang negara (SBN).






























