Menurutnya pemerintah tetap akan menghadapi persaingan pasokan surat utang dari banyak negara maju, sehingga berpotensi perlu menawarkan imbal hasil lebih tinggi untuk menarik investor.
"Yield [imbal hasil] SBN 10 tahun saat ini saja sudah mencapai 7,45%," tuturnya.
Selain meningkatkan risiko defisit, pelemahan rupiah dan kenaikan harga minyak juga berpotensi menambah beban subsidi dan kompensasi energi pemerintah.
Sebagai catatan, Harga minyak West Texas Intermediate [WTI] untuk pengiriman Desember naik 0,3% menjadi US$100,18 per barel pada pukul 06.01 waktu Singapura, Rabu. Sementara itu, minyak Brent untuk penyelesaian Desember turun 1,7% dan ditutup pada US$113,88 per barel pada perdagangan Selasa.
Wijayanto menyebut pagu subsidi dan kompensasi energi dalam APBN 2026 ditetapkan sebesar Rp338 triliun. Namun, realisasinya hingga September 2026 telah mencapai Rp376 triliun, melampaui pagu anggaran tersebut.
Jika harga minyak bertahan di level US$90 per barel dan nilai tukar rupiah mencapai Rp18.000/US$, maka biaya subsidi dan kompensasi energi pada kuartal IV-2026 diperkirakan mencapai Rp180 triliun hingga Rp190 triliun.
Dengan demikian, total biaya subsidi dan kompensasi energi sepanjang 2026 berpotensi mencapai hingga Rp566 triliun.
Wijayanto menegaskan, angka tersebut belum memasukkan kewajiban utang kompensasi dan subsidi pemerintah kepada PT PLN (Persero) dan PT Pertamina (Persero) yang menurutnya mencapai sekitar Rp280 triliun pada September 2026.
Tahan Belanja
Untuk menjaga defisit tetap terkendali, Wijayanto meminta pemerintah meninjau kembali rencana peningkatan belanja hingga Rp1.300 triliun pada kuartal IV-2026.
Menurutnya, pemerintah perlu mengutamakan kualitas pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan fiskal ketimbang mengejar besarnya belanja dalam waktu singkat.
Dia juga menyarankan pemerintah mengevaluasi belanja yang tidak wajib, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), dan berbagai bantuan sosial.
"Jika ada ruang berutang di Q4 2026, sebaiknya dihemat, dimanfaatkan di tahun 2027 yang kemungkinan akan sama menantangnya, atau bahkan berpotensi lebih menantang," pungkas Wijayanto.
Untuk diketahui, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) telah menyentuh rekor terlemah sepanjang sejarah, dengan berada di posisi Rp18.183/US$ pada penutupan perdagangan hari ini, Rabu (28/10/2026).
(lav)





























