Rupiah Rekor Terlemah, Menkeu & BI Didesak Ambil Langkah Kongkret
Pramesti Regita Cindy
28 October 2026 15:57

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) perlu mengambil langkah bauran kebijakan yang konkret untuk memperkuat fundamental demi meredam volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), baik dalam jangka pendek maupun jangka menengah.
Hal itu disampaikan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga Rahma Gafmi merespons pergerakan rupiah yang terus melemah, hingga puncaknya berada di level Rp18.183/US$ atau ambrol 0,17% pada penutupan perdagangan Rabu (28/10/2026), setelah sempat menyentuh posisi All Time Low (ATL) di Rp18.188/US$ siang tadi.
Jika dilihat dari posisi penutupan (closing), maka rupiah yang finis di posisi Rp18.183/US$ adalah yang terlemah sepanjang sejarah.
"Dalam situasi rawan seperti ini, bauran kebijakan (policy mix) yang ditempuh BI dan pemerintah tidak boleh sebatas bersifat seremonial atau normatif. Dibutuhkan langkah-langkah taktis jangka pendek untuk meredam volatilitas, sekaligus intervensi struktural jangka menengah agar fundamental rupiah kembali kokoh," kata Rahma kepada Bloomberg Technoz, Rabu (28/10/2026).
Lebih lanjut, ia menilai pelemahan rupiah terjadi saat ini pada dasarnya bukan hanya berasal dari tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor ketidakpastian suku bunga global dan geopolitik, tetapi faktor domestik juga mempengaruhinya.





























