Keputusan untuk menahan suku bunga setelah dua kali kenaikan berturut-turut pada kuartal III menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan masih berhati-hati dalam menentukan seberapa agresif mereka harus mengendalikan inflasi, terutama karena pemulihan ekonomi masih rapuh. Sebagian besar ekonom memperkirakan RBNZ akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat, dengan kesempatan berikutnya pada Desember.
RBNZ menjadi bank sentral pertama yang diperkirakan mengambil keputusan mempertahankan suku bunga pekan ini. Federal Reserve (The Fed) serta bank sentral di zona euro dan Jepang kemungkinan juga akan menahan suku bunga, sembari menunggu waktu yang tepat sebelum mempertimbangkan kenaikan lebih lanjut.
Dolar Selandia Baru merosot hingga 1,7 persen menjadi 55,86 sen AS sesaat setelah keputusan diumumkan, sebelum beranjak naik dari level terendahnya. Obligasi domestik menguat, sementara imbal hasil obligasi pemerintah bertenor dua tahun yang sensitif terhadap kebijakan suku bunga turun 12 basis poin menjadi 3,82 persen.
Breman mengatakan kepada Bloomberg Television bahwa Komite Kebijakan Moneter telah memperkirakan akan terjadi pergerakan nilai tukar setelah keputusan tersebut diumumkan.
“Tentu saja, kami menyambut penguatan dolar Selandia Baru ketika tekanan inflasi meningkat,” kata Breman. “Namun, kami harus mempertimbangkannya bersama seluruh faktor lain yang memengaruhi inflasi dalam jangka menengah. Karena itu, kami terus memantau dan menilai dengan cermat dampaknya terhadap inflasi ke depan.”
‘Benar-Benar Terkejut’
Keputusan mempertahankan suku bunga mengejutkan para ekonom dan pelaku pasar. Investor sebelumnya memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Rabu mencapai 95 persen.
“Kami benar-benar terkejut dengan keputusan RBNZ untuk mempertahankan suku bunga,” kata Stephen Toplis, Kepala Riset Bank of New Zealand. “Bank sentral memang tidak wajib mengikuti ekspektasi pasar dan konsensus, tetapi jarang sekali mereka mengambil keputusan yang sepenuhnya berlawanan dengan keduanya. Dengan langkah ini, RBNZ secara langsung menambah tekanan inflasi karena mendorong dolar Selandia Baru yang sudah lemah untuk semakin terpuruk.”
Komite Kebijakan Moneter memutuskan mempertahankan suku bunga dengan hasil pemungutan suara 4-3. Paul Conway, Hayley Gourley, dan Karen Silk memilih kenaikan sebesar 25 basis poin.
Anggota yang mendukung penahanan suku bunga menekankan risiko pemulihan ekonomi yang lemah, terutama pada konsumsi rumah tangga dan investasi. Mereka memilih menunda keputusan pada pertemuan kali ini untuk mengamati dan menilai permintaan serta kondisi keuangan.
RBNZ menyatakan dua anggota yang mendukung penahanan suku bunga, Breman dan Prasanna Gai, “menilai bahwa kemungkinan perubahan mendadak dalam kondisi global membawa risiko yang signifikan”.
Komite menilai terdapat “risiko signifikan” terhadap prospek ekonomi global yang dapat berdampak besar pada Selandia Baru, termasuk melalui permintaan ekspor, nilai tukar perdagangan, nilai tukar mata uang, dan kondisi keuangan.
Keputusan pada Rabu diambil hanya 10 hari sebelum pemilihan umum. Pemerintahan koalisi kanan-tengah menghadapi persaingan ketat, sementara blok kiri-tengah yang dipimpin Partai Buruh mengusulkan untuk mengembalikan mandat ganda RBNZ, yakni menjaga stabilitas harga dan memaksimalkan lapangan kerja.
Perdana Menteri Christopher Luxon menyoroti penurunan biaya cicilan kredit pemilikan rumah sejak dirinya menjabat pada akhir 2023 sebagai faktor yang meningkatkan pendapatan rumah tangga. Namun, suku bunga kredit perumahan telah meningkat selama 12 bulan terakhir dan berpotensi naik lebih lanjut.
RBNZ menahan suku bunga meskipun inflasi dalam waktu dekat diperkirakan jauh lebih tinggi daripada perkiraan para pembuat kebijakan dalam pernyataan kebijakan September. Kondisi ini dipicu oleh kenaikan biaya bahan bakar dan pelemahan dolar Selandia Baru.
Proyeksi para ekonom menunjukkan inflasi akan bertahan di atas kisaran target RBNZ sebesar 1-3 persen hingga akhir 2027. Kondisi ini mendorong investor memperhitungkan kemungkinan OCR yang lebih tinggi dalam beberapa bulan mendatang.
RBNZ menyatakan inflasi, yang sedikit melambat menjadi 3,7 persen pada kuartal III, diperkirakan meningkat menjadi 4,4 persen pada kuartal IV. Namun, bank sentral menilai prospek inflasi dalam waktu dekat masih tidak pasti.
“Pertumbuhan belanja rumah tangga yang lemah membatasi kemampuan sejumlah perusahaan untuk meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen guna memulihkan margin keuntungan,” kata RBNZ. “Namun, semakin lama inflasi bertahan pada level tinggi, semakin besar risiko kenaikan biaya memengaruhi ekspektasi inflasi serta perilaku penetapan harga dan upah, sehingga membuat inflasi bertahan lebih lama.”
(bbn)






























