Logo Bloomberg Technoz

Ekonom: Kenaikan BI Rate Bisa Jadi Opsi Jika Rupiah Terus Lemah

Pramesti Regita Cindy
20 October 2026 11:01

Ilustrasi BI Rate. (Diolah dari Berbagai Sumber)
Ilustrasi BI Rate. (Diolah dari Berbagai Sumber)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Ekonom menilai kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI-Rate sebesar 25 basispoin (bps) menjadi 6% merupakan pilihan yang proporsional apabila tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus berlanjut.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan peluang menaikkan BI Rate kian besar di tengah tekanan rupiah yang menembus Rp18.000/US$, disertai kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah. Namun, langkah itu juga perlu mempertimbangkan kondisi pertumbuhan ekonomi serta efektivitas kenaikan suku bunga dalam meredam pelemahan rupiah.

"Menurut kami, peluang BI menaikkan BI-Rate pada RDG 20–21 Oktober 2026 semakin besar, dengan kenaikan sebesar 25 basispoin (bps) menjadi 6% sebagai skenario utama," kata Josua kepada Bloomberg Technoz, Selasa (20/10/2026). 


Keputusan menaikan BI Rate tersebut, kata Josua turut sejalan dengan hasil estimasi model probabilistik terbarunya yang menunjukkan peluang kenaikan suku bunga mencapai 63,11%, sementara probabilitas BI mempertahankan suku bunga di level 5,75% sebesar 34,69%.

Dia mencatat rupiah telah berada di sekitar Rp18.043/US$ pada 19 Oktober 2026, sedangkan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun mencapai sekitar 7,43%. Tekanan tersebut terjadi di tengah memburuknya sentimen investor setelah pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI).