Airlangga mengatakan bahwa dirinya sudah melakukan pertemuan dengan otoritas moneter tersebut terkait dengan pelemahan rupiah. Sayangnya, dirinya tak menjelaskan mengenai langkah konkret apa saja yang akan dilakukan untuk meredam laju pelemahan rupiah.
Rupiah kembali terpangkas 0,1% ke Rp18.171/US$ dalam perdagangan spot, Rabu (28/10/2026). Tak lama berselang, rupiah kembali susut 0,15% jadi Rp18.180/US$ pada 09:08 WIB.
Sementara itu, di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) rupiah kembali menembus Rp18.219/US$, setelah terpangkas 0,19%.
Tekanan terhadap rupiah datang dari dua arah. Dari sisi eksternal, indeks dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat 0,1% ke 102,42, sejalan dengan kenaikan yield obligasi pemerintah AS, US Treasury, sebesar 3,3 basis poin (bps) jadi 5,02%.
Kenaikan dolar AS dan yield US Treasury ini dipicu oleh harga minyak mentah Brent yang kembali terdongkrak 1,44% jadi US$115,52/barel. Padahal, bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan, meski inflasi September tercatat lebih tinggi daripada perkiraan.
Pelaku pasar membaca langkah The Fed sebagai sinyal hawkish hold. Kepala Ekonom Wolfe Research Stephanie Roth menilai, The Fed kemungkinan akan menahan suku bunga acuan bulan ini dengan kemungkinan adanya langkah pengetatan setelah data harga konsumen dan harga produsen edisi September rilis.
Dari sisi domestik, rupiah masih diliputi sentimen terkait perubahan klasifikasi pasar saham domestik oleh MSCI. Sentimen itu membuat investor melakukan panic selling di pasar saham dan obligasi. Aksi jual masih berlanjut di pasar surat utang dan mengerek yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik jadi 7,55%, tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Sikap pasar itu juga berdampak pada hasil lelang surat utang, yang juga mendingin. Alhasil, pemerintah hanya mengantongi Rp20,65 triliun, di bawah target indikatif Rp30 triliun.
(ell)




























