Volatilitas rupiah mencerminkan tekanan dari capital outflow yang terjadi sejak pekan lalu.
Di sisi lain, koreksi IHSG merupakan koreksi wajar, mengingat sejumlah saham big banks dan big caps telah menyentuh area resistance, sehingga berpotensi memicu aksi profit taking.
Secara teknikal, support IHSG saat ini ada di kisaran 5.185-5.073 dan resistance 5.328-5.422.
Volatilitas Rupiah
Rupiah menutup perdagangan Selasa (27/10/2026) dengan depresiasi 0,16% ke Rp18.153/US$, seiring menguatnya aksi jual di pasar saham dan obligasi.
Data Bloomberg per 15:15 WIB menunjukkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) amblas 3,36% ke posisi 5.192,42. Sejalan dengan itu, di pasar obligasi aksi jual meluas kompak di semua tenor.
Yield tenor acuan 10 tahun naik 4,1 basis poin (bps) ke 7,52% dan mengalami inversi yield dengan tenor yang lebih panjang. Di tenor 15 tahun tercatat naik 7,1 bps ke 7,49%, dan tenor 12 tahun naik 4,4 bps ke 7,48%.
Sedangkan tenor 20 tahun naik hanya 1 bps ke 7,47%, lebih rendah ketimbang tenor 10 tahun.
Pelemahan rupiah menjadi keniscayaan, setelah Bank Indonesia (BI), memilih mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di 5,75% saat tekanan eksternal menguat dan sentimen domestik memburuk.
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI) Josua Pardede menyebut, tekanan ini merupakan kombinasi penguatan dolar AS, harga minyak yang kembali berada di sekitar US$115 per barel, meningkatnya kebutuhan devisa impor.
Selain itu, adanya arus modal keluar yang meluas dari pasar saham ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) setelah pengumuman konsultasi MSCI. Ia memperkirakan rupiah dapat bergerak di rentang Rp18.000-18.500/US$ sepanjang sisa kuartal IV-2026.
(red)



























