Walakin, keputusan ini muncul bersamaan dengan mencuatnya ketegangan lain di antarkedua negara.
Berikut adalah hal-hal yang perlu diketahui:
Apa yang terjadi?
Pada akhir Oktober, Indonesia mengumumkan akan segera mengurangi ekspor gas melalui pipa ke Singapura sebesar sekitar 31 juta kaki kubik standar per hari.
Menurut perhitungan Bloomberg berdasarkan data Pemerintah Indonesia, jumlah ini setara dengan sekitar 14% dari rata-rata ekspor gas pipa harian Indonesia ke Singapura pada 2025. Belum jelas berapa lama pengurangan ini akan berlangsung.
Singapura membeli gas alam pipa—yang terutama digunakan untuk pembangkit listrik—berdasarkan kontrak jangka panjang yang memberikan fleksibilitas tertentu terkait dengan volume pengambilan gas.
Di tengah tingginya harga gas internasional dan biaya pengiriman, Singapura selama ini mengambil volume maksimal yang tersedia dalam kontrak tersebut, sehingga mereka dapat lebih mengandalkan pemasok yang dekat secara geografis dibandingkan harus membeli gas yang lebih mahal dari wilayah yang lebih jauh.
Sehari setelah pembatasan tersebut diumumkan, Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong menyatakan harapannya agar perjanjian energi yang ada tetap dipatuhi.
Menurut Otoritas Pasar Energi atau Energy Market Authority (EMA) Singapura, pihak importir gas di Singapura juga tengah mengupayakan langkah penyelesaian yang dimungkinkan dalam kontrak pasokan mereka.
Di sisi lain, Indonesia menegaskan pengurangan tersebut diperbolehkan berdasarkan kontrak yang berlaku.
Apakah langkah Indonesia ini menjadi masalah bagi Singapura?
Menteri Energi, Perdagangan, dan Industri Singapura Tan See Leng meminta masyarakat Singapura untuk tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa.
"Rumah tangga maupun pelaku bisnis di Singapura dapat yakin bahwa ketahanan energi senantiasa menjadi prioritas utama kami," ujarnya pada 26 Oktober.
Singapura mengimpor lebih dari satu miliar kaki kubik gas alam per hari, yang berarti pengurangan pasokan dari Indonesia mencakup sekitar 2% dari kebutuhan gas harian negara tersebut.
Harga listrik sejauh ini relatif stabil sejak pengurangan pasokan diumumkan.
Menurut Warren Patterson, Kepala Strategi Komoditas untuk ING Groep NV di Singapura, pengurangan ini seharusnya dapat diatasi, meskipun dampaknya sangat bergantung pada berapa lama kondisi ini berlangsung.
"Secara lebih luas, ini menjadi pengingat yang baik—terutama dalam situasi geopolitik saat ini—akan pentingnya diversifikasi pasokan energi, sebuah langkah yang sebenarnya telah dilakukan dengan baik oleh Singapura selama bertahun-tahun," ujar Patterson.
Tahun ini, Singapura telah berhasil menghadapi gangguan pada pasokan gasnya.
Konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran, serta penutupan efektif Selat Hormuz, sempat mengganggu ekspor LNG dari Qatar—salah satu eksportir terbesar dunia sekaligus pemasok bagi Singapura.
Singapura mampu mencari sumber pasokan pengganti, termasuk dari Amerika Serikat. Secara umum, Singapura memperoleh LNG dari berbagai pemasok di Amerika Serikat, Afrika, Timur Tengah, dan Australia.
Mengapa Indonesia mengurangi ekspor gas ke Singapura?
Penjelasan resminya adalah demi ketahanan energi.
Djoko Siswanto, kepala SKK Migas—lembaga pengatur kegiatan hulu minyak dan gas bumi Indonesia—menyatakan bahwa gas tersebut dialihkan untuk menjamin keandalan pembangkit listrik di dalam negeri.
Indonesia tengah menghadapi penurunan produksi gas alam dalam jangka panjang, sementara permintaan domestik terus meningkat, sehingga memberikan tekanan lebih besar terhadap ketersediaan pasokan.
Rencana serupa untuk mengurangi ekspor gas melalui pipa ke Singapura sempat diwacanakan pada April 2025.
Meski demikian, waktu pelaksanaan pengurangan pasokan terbaru ini memicu pertanyaan apakah memburuknya hubungan antara Singapura dan Indonesia terkait dengan dua masalah lain turut berperan.
Singapura baru-baru ini mulai menyelidiki kebakaran lahan di Indonesia yang menyebabkan kabut asap menyelimuti wilayahnya, serta membidik lebih dari belasan perusahaan asal Indonesia dan Singapura yang diduga terlibat dalam kebakaran tersebut.
Tanpa menyebut nama Singapura secara langsung, para pejabat Indonesia menolak apa yang mereka anggap sebagai upaya negara lain untuk menyalahkan Indonesia atas kabut asap tersebut.
Retorika ini sempat memanas beberapa hari sebelum Indonesia mengumumkan pengurangan pasokan gas tersebut.
Prabowo menuding “negara-negara tertentu” telah “menghina” Indonesia terkait masalah kabut asap, sementara Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia melontarkan pernyataan samar mengenai penghentian ekspor energi ke negara-negara yang tidak menunjukkan rasa hormat kepada Indonesia.
Belakangan, dia membantah bahwa penghentian pasokan gas tersebut berkaitan dengan konflik apa pun dengan Singapura.
Sumber ketegangan lain yang mungkin muncul adalah peringatan baru-baru ini dari penyedia indeks MSCI Inc. bahwa mereka mungkin mengklasifikasikan ulang Indonesia sebagai pasar mandiri (standalone market).
Langkah ini dapat menyebabkan saham-saham Indonesia dihapus dari indeks-indeks global utama dan memicu arus keluar modal asing dalam jumlah besar.
Isu ini menyeret Singapura ke dalam perdebatan setelah mantan Menteri Perdagangan Indonesia, Muhammad Lutfi, menuduh dana investasi negara tersebut—GIC Pte dan Temasek Holdings Pte—berupaya memengaruhi keputusan penyedia indeks tersebut. Keduanya telah membantah tuduhan itu.
Bisakah Singapura beradaptasi dengan berkurangnya pasokan gas dari Indonesia?
Seiring dengan berkurangnya pasokan gas dari Indonesia ke Singapura, negara kota tersebut mungkin perlu mencari lebih banyak LNG dari sumber lain untuk menutupi kekurangan tersebut.
Tahun ini, Singapura telah berhasil mengamankan tambahan pasokan LNG dari Amerika Serikat dan kemungkinan besar dapat terus melakukannya, meskipun pasokan pengganti tersebut mungkin memakan biaya tinggi dengan tingkat harga saat ini.
Dalam jangka panjang, Singapura tengah memperluas infrastrukturnya agar dapat mengimpor LNG dalam volume yang lebih besar.
Terminal yang ada saat ini membatasi jumlah LNG yang dapat diterima dan disimpan dalam satu waktu. Terminal impor kedua, yang dijadwalkan siap sebelum 2030, diperkirakan meningkatkan kapasitas impor dan pemrosesan LNG Singapura sebesar 50%.
Secara terpisah, Singapura juga tengah meningkatkan kemampuan pembangkitan listriknya seiring dengan meningkatnya permintaan.
Negara tersebut telah mengumumkan rencana untuk membangun lima pembangkit listrik baru yang akan mulai beroperasi antara 2026 dan 2031, yang akan menambah kapasitas pembangkitan listrik lebih dari seperempatnya.
Akankah hal ini merusak hubungan antara Indonesia dan Singapura?
Meningkatnya ketegangan ini tidak serta-merta berarti akan menimbulkan kerusakan jangka panjang. Kedua negara tetap memiliki hubungan yang erat.
Mereka memiliki ikatan diplomatik yang telah terjalin lama, sama-sama merupakan negara pendiri Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (Asean), dan secara rutin melakukan pertukaran politik tingkat tinggi.
Singapura juga merupakan sumber utama sekaligus saluran bagi investasi asing ke Indonesia, dengan modal yang dialirkan melalui pusat keuangan tersebut ke berbagai bisnis di Indonesia, mencakup sektor infrastruktur, real estat, dan industri lainnya.
Awal tahun ini, Indonesia menugaskan lembaga pengelola investasi negara, Danantara, untuk mengembangkan jaringan listrik lintas negara dengan Singapura.
Namun, hubungan kedua negara ini memang pernah mengalami periode-periode ketegangan dari waktu ke waktu.
Ketegangan bermula sejak kampanye 'Konfrontasi' Indonesia terhadap pembentukan Malaysia pada 1960-an, yang mencakup serangan-serangan di Singapura.
Sejak saat itu, kedua negara tetangga tersebut kerap berselisih mengenai berbagai masalah, termasuk batas wilayah laut dan pembatasan ekspor pasir oleh Indonesia—pasir yang digunakan Singapura untuk kegiatan reklamasi lahan.
Sumber ketegangan lain yang telah berlangsung lama adalah besarnya kekayaan milik pihak Indonesia yang disimpan di Singapura; hal ini mendorong Jakarta untuk berulang kali berupaya menarik kembali dana miliaran dolar tersebut melalui kebijakan pengampunan pajak (tax amnesty) dan langkah-langkah lainnya.
(bbn)






























