Logo Bloomberg Technoz

Menurut Hadi, Indonesia sebenarnya masih memiliki ruang untuk membatalkan kerja sama dengan Rosneft meskipun proyek Kilang Tuban telah memasuki tahap prakualifikasi tender.

Hadi menilai keputusan untuk mengakhiri kerja sama dan mencari mitra baru dapat menjadi opsi yang lebih baik alih-alih membiarkan masa depan GRR menjadi tidak jelas.

“Cut loss ini lebih baik daripada Kilang Tuban tidak jelas masa depannya,” ujar Hadi.

Adapun, PT Pertamina Patra Niaga (PPN) selaku subholding downstream PT Pertamina (Persero) belum membalas permintaan konfirmasi Bloomberg Technoz.

Sebelumnya, PT Pertamina Patra Niaga menyatakan masih menunggu rampungnya keputusan investasi final atau final investment decision (FID) Rosneft di GRR Tuban.

Langkah tersebut dilakukan usai PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP) resmi membuka prakualifikasi tender EPCC untuk proyek Kilang Tuban.

Wakil Direktur Utama PPN Taufik Aditiyawarman enggan mengungkapkan target FID Rosneft di Kilang Tuban usai tahapan prakualifikasi tender tersebut. Dia hanya menegaskan target terdekat perseroan adalah menuntaskan FID Rosneft di Kilang Tuban.

“Next step-nya menyelesaikan FID sama menyelesaikan prosesnya Rosneft. Itu target sekarang, itu goals; [FID] targetnya,” kata Taufik kepada awak media di Kompleks Parlemen, Kamis (16/7/2026).

Belum lama ini, PRPP resmi membuka prakualifikasi tender EPCC untuk proyek Kilang Tuban.

Berdasarkan pengumuman yang dilihat Bloomberg Technoz, anak usaha Pertamina tersebut bakal membuka dua paket pekerjaan yakni kilang I GRR Tuban dengan nomor BS-001/PRPP-310/2026-S0 dan kilang II GRR Tuban dengan nomor BS-002/PRPP-310/2026-S0.

Prakualifikasi dibuka bagi perusahaan nasional maupun asing, baik perusahaan tunggal maupun konsorsium, joint venture (JV), dan joint operation (JO). Untuk perusahaan berbentuk konsorsium, PRPP mensyaratkan keterlibatan minimal satu perusahaan nasional.

Nilai proyek GRR Tuban diprediksi mencapai US$24 miliar dan dirancang untuk memiliki kapasitas olahan minyak mentah 300.000 bph.

Pertamina lewat anak usahanya, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), memegang 55% saham PRPP, sedangkan 45% saham lainnya dikuasai Rosneft Singapore Pte Ltd (dahulu Petrol Complex Pte Ltd).

Keuangan Rosneft

Sebagai informasi, kondisi keuangan Rosneft dikabarkan kian memburuk. Laba perusahaan merosot sementara utang terus membengkak, padahal seharusnya ada keuntungan tak terduga yang bisa diraih.

Kerugian finansial pun makin meningkat. Laba bersih Rosneft pada semester I-2026 turun hampir seperlima menjadi 200 miliar rubel (US$2,4 miliar).

Rasio utang bersih terhadap laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi meningkat menjadi 1,8 kali lipat pada akhir Juni, yang tertinggi dalam lebih dari lima tahun, menurut laporan triwulanan sejak 2020, meskipun tiga laporan pada periode tersebut tidak mengungkapkan rasio tersebut, sehingga membuat estimasi ukuran dan cakupan pastinya menjadi lebih sulit.

Menurut pihak-pihak yang memahami masalah ini kepada Bloomberg, para pejabat Rosneft telah menyatakan kekhawatiran bahwa perang di Ukraina—meskipun hanya berlangsung beberapa bulan lagi—dapat menimbulkan kerusakan jangka panjang bagi seluruh lini bisnis perusahaan.

Bulan ini, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mencapai kesepakatan yang membuka peluang bagi Amerika Serikat untuk membeli solar dari Rusia.

Langkah ini diharapkan dapat memberikan dorongan, sementara Washington juga mendesak Kyiv untuk menghentikan serangan tersebut—serangan yang menjadi salah satu faktor utama pengetatan pasokan solar global.

Namun, upaya gencatan senjata di sektor energi ini dengan cepat gagal, sehingga mempersempit ruang bagi Rosneft untuk memulihkan diri, sekaligus meningkatkan risiko bagi pemerintah Rusia, yang memperoleh sekitar seperlima dari pendapatan federalnya melalui sektor minyak dan gas.

Menurut data Bloomberg—yang dihimpun berdasarkan pernyataan resmi dari kedua negara—sepanjang tahun ini, pesawat nirawak Ukraina telah melancarkan setidaknya 114 serangan terhadap kilang-kilang minyak Rusia; jumlah ini lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Peta serangan Ukraina terhadap basis-basis produksi bahan bakar Rusia./dok. Bloomberg

Serangan-serangan tersebut telah menyebabkan tingkat operasional kilang minyak Rusia merosot ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir, memicu kelangkaan bahan bakar, dan memaksa Moskwa untuk membatasi ekspor bensin, solar, serta bahan bakar jet alias avtur.

Rosneft menanggung sebagian besar dampak kerusakan tersebut. Perusahaan ini mengoperasikan 12 kilang yang mencakup sekitar sepertiga dari total kapasitas pengolahan minyak Rusia.

Menurut catatan Bloomberg, dari 15 serangan pesawat nirawak yang terkonfirmasi terhadap fasilitas pengolahan minyak di Rusia pada September, lima di antaranya menyasar fasilitas utama milik Rosneft yang memasok bahan bakar ke wilayah Rusia bagian Eropa—kawasan dengan tingkat konsumsi terbesar.

Kerusakan menjadi jauh lebih sulit diperbaiki ketika serangan menghantam unit-unit sekunder yang kompleks—seperti unitcatalytic cracker, reformer, dan hydrocracker—yang suku cadangnya sebelumnya dipasok dari negara-negara Barat.

Sanksi memperparah masalah dengan membatasi akses terhadap peralatan pengganti, sehingga memaksa Rosneft untuk mengandalkan tiruan buatan Rusia serta produk impor dari China—yang sering kali membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk diperoleh dan tidak selalu kompatibel dengan mesin yang sudah ada—ungkap pihak-pihak yang memahami masalah ini.

Secara lebih luas, Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) menyatakan serangan pesawat nirawak terhadap kilang-kilang minyak Rusia menimbulkan “dampak negatif yang bersifat akumulatif.”

Pada September, badan tersebut menurunkan proyeksi volume pengolahan minyak Rusia untuk 18 bulan ke depan menjadi sekitar 4 juta barel per hari, atau sekitar 30% di bawah tingkat sebelum perang.

(azr/wdh)

No more pages