Di sisi lain, sumber utama pembayaran kembali fasilitas kredit berasal dari operasional usaha perusahaan dan beberapa anak perusahaan yang dapat memberikan dividen dan hanya berasal dari usaha batu bara yang dimiliki oleh debitur dan grup usaha.
Fasilitas pinjaman itu dijamin dengan agunan fixed dan non fixed asset termasuk namun tidak terbatas pada saham JARR dan PGUN, afiliasi PT Jhonlin Baratama.
“Dengan memperhitungkan harga terendah intraday saham JARR dan PGUN dalam 1 bulan terakhir, maka total collateral coverage ratio masih terjaga di level 150%,” dikutip dari keterangan BMRI.
Penilaian atas aset yang menjadi agunan kredit selain saham telah dilakukan oleh penilai independent yaitu kantor jasa penilaian publik (KJPP) sesuai dengan kompetensinya dan ketentuan yang berlaku.
“Terkait saham PGUN, kami telah mempertimbangkan risiko konsentrasi kepemilikan melalui uji sensitivitas terhadap volatilitas harga saham dalam perhitungan kecukupan agunan kredit,” dikutip dari keterangan BMRI.
Fasilitas kredit jumbo dari bank pelat merah itu terjadi di tengah manuver Haji Isam untuk mengakuisisi sebagian besar saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN).
Crossing Saham
Sebelumnya, Low Tuck Kwong dan putrinya Elaine Low melepas 10,84 miliar saham BYAN kepada Haji Isam lewat pasar negosiasi, Rabu (7/10/2026).
Lewat kesepakatan transaksi itu, Dato' Low Tuck Kwong mengalihkan 10.067.421.703 saham biasa BYAN kepada Haji Isam. Sementara itu, Elaine Low melepas 16.666.667 saham biasa kepada konglomerat asal Kalimantan Selatan tersebut.
Dengan demikian, Haji Isam lewat kendaraan investasinya, PT Jhonlin Baratama resmi menguasai sekitar 10,08 miliar saham BYAN dari divestasi bagian Dato' Low Tuck Kwong dan putrinya atau 30,25% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan.
“Perseroan telah menerima surat-surat pemberitahuan dari Dato’ Low Tuck Kwong dan Elaine Low tertanggal 8 Oktober 2026 yang menyampaikan bahwa transaksi yang dimaksud dalam PJBS telah diselesaikan,” dikutip dari keterbukaan informasi manajemen BYAN, Jumat (9/10/2026).
Mengutip keterbukaan informasi, Low Tuck Kwong dan putrinya melepas saham BYAN di harga Rp2.588 per saham sesaat setelah pembukaan perdagangan Rabu lalu.
Harga pelaksanaan crossing saham itu lebih rendah 80,76% dari harga pembukaan BYAN pada perdagangan Rabu lalu di level Rp13.450 per saham.
Lewat harga diskon itu, Haji Isam menguasai 30,25% saham BYAN dari Low Tuck Kwong dan putrinya dengan nilai transaksi sekitar Rp26,09 triliun.
Belakangan, porsi Dato' Low Tuck Kwong tergerus sisa 3,31 miliar saham atau setara 9,95% dari saham beredar BYAN. Di sisi lain, Elain Low memiliki sekitar 7,35 miliar saham biasa BYAN sekitar 22,05% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan.
(naw)































