Sumber tekanan rupiah tak cuma datang dari ketidakpastian rencana MSCI yang berencana menurunkan klasifikasi pasar saham RI jadi Standalone Market, tapi juga kenaikan harga minyak mentah yang kembali berada di kisarna US$115/barel.
Harga minyak yang bertahan tinggi jadi risiko tambahan bagi stabilitas eksternal Indonesia, sebab inflasi impor menjadi hal yang tak terhindarkan.
Memang, data inflasi terakhir masih terjaga di kisaran target Bank Indonesia (BI), namun posisi 3,28% berada di rentang atas kisaran target itu sendiri 1,5%-3,5%. Di sisi lain, gerak rupiah ke depan masih akan diliputi oleh keputusan suku bunga acuan Federal Reserve dan perkembangan inflasi AS.
Investor agaknya cenderung berhati-hati jelang rapat Federal Open Market Committee (FOMC). JIka The Fed mempertahankan suku bunga dnegan nada hawkish, yield aset berdenominasi dolar AS diperkirakan akan tetap tinggi sehingga daya tgarik aset negara berkembang, termasuk Indonesia bisa jadi makin terbatas.
Di tengah tekanan ini, Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti menilai volatilitas yang terjadi masih tergolong biasa. Ia mengatakan BI akan terus memonitor pergerakan penawaran dan permintaan nilai tukar.
Sementara itu, di pasar Asia pergerakan mata uang Asia cukup beragam dengan kecenderungan melemah. Hanya won Korea Selatan dan yuan offshore dan yuan China yang bertahan di zona hijau tertopang oleh kekuatan struktur ekonomi domestiknya.
Pergerakan mata uang Asia hari ini tertekan harga minyak yang berpotensi mengerek inflasi global. Bloomberg Economics menilai inflasi 2026 diperkirakan menyentuh 4,4%, jika harga minyak bertahan di atas level US$100/barel.
Di tengah kondisi ini, bank sentral negara-negara di Asia diperkirakan menghadapi tekanan. Antara menekan laju inflasi yang kian membandel, dengan menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah iklim yang tidak sepenuhnya kondisuf.
(riset)





























