Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Pangkas Pelemahan, Tutup Perdagangan di Rp18.057/US$

Tim Riset Bloomberg Technoz
23 October 2026 15:45

Karyawan merapihkan uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah menutup perdagangan pekan ini dengan memangkas pelemahan hingga tinggal 0,04% ke Rp18.057/US$, sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang masih tertekan kenaikan harga minyak mentah. 

Harga Brent hari ini kembali tinggi, naik 0,7% jadi US$113,98/barel. Kenaikan harga minyak terjadi akibat serangan terhadap Arab Saudi yang berpotensi memperparah risiko pasokan. Terlebih, pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump yang mengisyaratkan kemungkinan serangan baru terhadap Iran dalam waktu dekat. 

Tekanan biaya energi itu membuat mata uang kawasan kembali tertekan. Sore ini, yen Jepang melemah 0,15% paling tajam di antara mata uang lainnya. Diikuti peso Filipina dan rupee India masing-masing 0,13%.


Sementara, dolar Singapura, Hong Kong, ringgit Malaysia dan rupiah melemah lebih terbatas. Sedangkan, dari zona hijau hanya yuan China berhasil menguat, itu pun sangat terbatas. 

Rupiah dan mata uang Asia. (Bloomberg).

Sepanjang pekan ini, pergerakan mata uang Asia cukup beragam. Peso melemah paling tajam sebesar 0,99%, diikuti baht Thailand 0,67%, dolar Taiwan 0,52%, rupiah 0,25%, dan ringgit Malaysia 0,12%. Sementara, mata uang seperti yen Jepang justru unggul bersama won Korea Selatan dengan penguatan masing-masing 0,68% hingga 0,61%. Selanjutnya, yuan China juga berhasil menguat 0,24%.