Netflix meraih jumlah penghargaan Emmy paling sedikit dalam satu dekade pada tahun ini. Menurut Co-CEO Ted Sarandos, pertumbuhan perusahaan juga belum cukup cepat sesuai harapannya.
“Biaya konten semakin mahal, sementara jumlah pemain di industri ini masih terlalu banyak,” kata Ken Mahoney dari Mahoney Asset Management. “Menurut saya, ada banyak perusahaan teknologi lain dengan prospek yang lebih menarik dibandingkan Netflix, yang juga memiliki pelanggan dengan tingkat loyalitas tinggi.”
Netflix mengambil sejumlah langkah untuk meningkatkan kualitas konten dan menambah jumlah penonton. Pada Senin, perusahaan mengumumkan bahwa kepala divisi filmnya, Dan Lin, akan hengkang. Pekan lalu, Netflix juga mengganti kepala kontennya, Bela Bajaria, dengan Peter Rice, mantan Chairman Walt Disney Television.
Perusahaan turut berencana memangkas sekitar 1.000 posisi di berbagai divisi secara global sebagai upaya menekan biaya.
Namun, bagi investor, persoalannya adalah laporan keuangan kali ini belum akan mencerminkan dampak dari langkah-langkah tersebut. Bahkan jika jajaran eksekutif memberikan proyeksi pendapatan yang solid, hal itu kemungkinan belum cukup meredakan perdebatan mengenai keterlibatan penonton, menurut Geetha Raganathan, analis Bloomberg Intelligence.
“Deretan konten yang lebih kuat pada kuartal IV dapat kembali mendongkrak jumlah penonton dan pendapatan iklan. Namun, investor akan membutuhkan bukti bahwa keterlibatan penonton dapat meningkat tanpa menghambat ekspansi margin,” tulisnya dalam catatan pada 19 Oktober.
Penunjukan Rice, tambahnya, mengisyaratkan potensi pergeseran strategi menuju “konten orisinal premium yang lebih mampu memicu perbincangan, serta peningkatan belanja konten pada 2027.”
Para analis yang mengikuti kinerja Netflix memperkirakan perusahaan akan melaporkan kenaikan pendapatan sebesar 12% secara tahunan menjadi US$12,9 miliar pada kuartal III, serta lonjakan laba sebesar 39% menjadi US$0,82 per saham, berdasarkan data yang dihimpun Bloomberg. Margin kotor diperkirakan mencapai 51%, sedikit lebih rendah dibandingkan kuartal II.
Wall Street secara umum masih optimistis terhadap saham Netflix. Target harga rata-rata analis sekitar US$92 mengindikasikan potensi kenaikan 32% dalam 12 bulan ke depan. Meski sentimen melemah, dengan dua analis memberikan rekomendasi setara jual terhadap saham tersebut dalam sebulan terakhir, investor yang optimistis melihat peluang perubahan sentimen dalam waktu dekat.
“Meski total waktu menonton masih lemah, kualitas konten membaik, sebagaimana tercermin dari jumlah jam tayang judul-judul populer dalam daftar 10 besar, sementara jumlah sekuel meningkat hingga akhir tahun,” tulis analis Oppenheimer yang dipimpin Jason Helfstein dalam catatan pada 14 Oktober.
Menurut mereka, kenaikan harga langganan di Amerika Serikat selama tiga bulan dan tarif iklan yang lebih tinggi selama satu bulan akan mendongkrak pendapatan. Selain itu, pengurangan jumlah karyawan baru-baru ini akan memberikan ruang bagi perusahaan untuk meningkatkan belanja pemasaran atau konten, maupun mendorong kenaikan margin yang lebih besar dari perkiraan.
Manajemen kemungkinan akan memberikan sejumlah indikasi mengenai proyeksi kinerja pada 2027, tetapi Netflix diperkirakan tidak akan menyampaikan panduan kinerja secara terperinci, menurut Mark Mahaney dari Evercore ISI. Ia secara khusus menyambut positif peluncuran terbaru Netflix, East of Eden.
“East of Eden terlihat sangat menjanjikan bagi kami,” tulis Mahaney dalam catatan kepada klien pada 16 Oktober. “Steinbeck KEMBALI!”
Pendapatan iklan bisa menjadi faktor yang lebih penting bagi investor dibandingkan keterlibatan penonton, menurut Alicia Reese dari Wedbush. Ia memperkirakan segmen tersebut berada di jalur untuk mencatatkan pertumbuhan dua kali lipat menjadi sekitar US$3 miliar pada 2026.
“Netflix secara aktif melakukan perubahan yang semestinya dapat mengatasi masalah keterlibatan penonton sekaligus mengalihkan belanja dari infrastruktur yang menyerap biaya besar menuju pengeluaran konten yang lebih terarah,” tulis Reese dalam catatan pada 16 Oktober.
Salah satu alasan untuk membeli saham Netflix adalah valuasinya. Saham tersebut diperdagangkan pada kurang dari 19 kali proyeksi laba untuk 12 bulan ke depan, level valuasi terendah sejak 2022 sekaligus jauh di bawah rata-rata 10 tahun sebesar 49 kali.
Kondisi ini membantu menjelaskan pandangan Justin Patterson, analis KeyBanc Capital Markets, yang menilai sentimen negatif terhadap Netflix telah tercermin dalam harga sahamnya.
“Pandangan pesimistis mengenai perlambatan keterlibatan penonton dan ekspansi margin yang lebih terbatas bisa dibilang sudah diperhitungkan dalam harga saham,” tulisnya dalam catatan pada 12 Oktober. “Kami meyakini manajemen menyadari berbagai persoalan ini dan memperkirakan langkah korektif akan dilakukan dalam investasi konten serta penyesuaian struktur biaya untuk memperkuat pertumbuhan dan laba, sekaligus menciptakan nilai bagi pemegang saham.”
(bbn)






























