“Risiko terbesar ke depan memang datang dari El Niño dan harga energi. Dalam proyeksi kami sebelum rilis September, harga cabai, beras, daging ayam dan telur sudah menunjukkan kecenderungan meningkat, dan dampak awal El Niño mulai terlihat pada harga pangan,” kata Josua kepada Bloomberg Technoz baru-baru ini.
Pada saat yang sama, harga minyak global yang tinggi meningkatkan harga bahan bakar nonsubsidi, avtur, biaya angkutan dan akhirnya biaya distribusi.
“Kami memperkirakan tekanan El Niño terhadap harga pangan akan semakin terasa menjelang akhir tahun, sementara tingginya harga energi meningkatkan kemungkinan kenaikan biaya transportasi dan produksi diteruskan kepada konsumen,” katanya.
Arah Risiko Condong ke Atas
Josua melihat angka inflasi 3,28% masih aman, tetapi arah risikonya sudah condong ke atas. Ia mewanti-wanti mengenai satu indikator yang perlu sangat diperhatikan, yaitu harga di tingkat produsen dan perdagangan besar.
Pada September, Indeks Harga Perdagangan Besar sudah meningkat 6,76% secara tahunan, jauh di atas inflasi konsumen 3,28%.
Komoditas yang mengalami kenaikan termasuk solar industri, elpiji nonsubsidi, beras, minyak pelumas, aspal, baja dan semen. Kesenjangan ini dapat dibaca sebagai tekanan biaya yang belum seluruhnya diteruskan kepada konsumen.
“Artinya, perusahaan masih menyerap sebagian kenaikan biaya melalui penurunan margin. Jika kondisi berlangsung lama, sebagian biaya tersebut akan mulai diteruskan ke harga jual,” kata Josua.
Josua menyebut bahwa transmisinya ke sektor riil terjadi melalui beberapa jalur. Pertama, industri dengan ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor akan menghadapi kombinasi rupiah lemah dan harga komoditas global tinggi. Biaya produksi naik, sehingga perusahaan harus memilih antara menaikkan harga atau menerima penurunan margin.
Kedua, energi mahal meningkatkan biaya transportasi, logistik, pergudangan dan distribusi sehingga tekanannya menyebar jauh melampaui sektor energi.
Ketiga, El Niño dapat mengurangi pasokan pangan dan mendorong harga bahan pangan, yang kemudian juga meningkatkan biaya industri makanan-minuman, restoran dan jasa boga.
“Kami memang sudah melihat risiko pelemahan rupiah menambah biaya bahan baku impor dan memperkuat inflasi dari sisi pasokan,” katanya.
Bagi daya beli rumah tangga, kuartal IV menjadi periode yang perlu diwaspadai, tetapi belum berarti konsumsi akan jatuh tajam.
Dampaknya akan paling terasa pada kelompok berpendapatan rendah dan menengah karena porsi belanja mereka untuk makanan, transportasi dan energi relatif besar.
Ketika harga pangan naik, rumah tangga biasanya tidak banyak mengurangi konsumsi beras, telur atau transportasi, tetapi mengurangi belanja lain yang lebih mudah ditunda seperti pakaian, elektronik, rekreasi dan makan di luar rumah.
“Jadi tekanan inflasi dapat berpindah dari sektor pangan menuju perlambatan permintaan sektor konsumsi lainnya. Risiko tersebut menjadi lebih besar apabila harga pangan tinggi bertepatan dengan kenaikan biaya transportasi menjelang akhir tahun,” katanya.
Namun menurut Josua, ada satu hal yang relatif menenangkan, yaitu inflasi inti masih moderat. Ini berarti kenaikan harga belum berubah menjadi tekanan inflasi yang menyebar luas melalui upah dan permintaan.
“Karena itu, respons kebijakan menurut saya jangan terlalu cepat hanya mengandalkan kenaikan suku bunga, sebab sumber masalah utamanya saat ini berada pada pasokan,” kata Josua.
Josua menyebut, salah satu pengendalian yang lebih efektif adalah memastikan stok beras dan pangan strategis, memperlancar distribusi antardaerah, memperkuat cadangan pangan, menjaga kelancaran impor ketika produksi domestik terganggu, serta menahan kenaikan biaya logistik dan energi selama ruang fiskal memungkinkan.
BI sendiri masih menilai inflasi berada dalam sasaran dan menekankan koordinasi pengendalian pangan untuk mengantisipasi El Niño.
Inflasi Bisa Capai 3,6%.
Sementara di akhir tahun, sebelumnya Josua memperkirakan inflasi akan mencapai di sekitar 3,13%, dengan asumsi harga energi bersubsidi tidak mengalami penyesuaian.
Setelah realisasi September sebesar 3,28%, yang sedikit lebih rendah dibanding perkiraan sebelumnya sebesar 3,35%, Josua masih melihat kisaran sekitar 3,1–3,3% pada Desember sebagai skenario dasar, dengan titik tengah sekitar 3,2%.
Namun dengan risiko yang cukup jelas ke atas, terlebih Jika El Niño menjadi lebih kuat dari perkiraan, harga pangan melonjak, rupiah melemah lebih dalam atau pemerintah perlu menyesuaikan harga energi, inflasi bisa saja bergerak lebih liar.
“Inflasi dapat bergerak menuju 3,4–3,6%, sehingga berpotensi menyentuh atau sementara melewati batas atas sasaran BI,” kata Josua.
Sehingga Ia menyarankan agar pada tiga bulan ke depan perhatian utama pemerintah bukan hanya mempertahankan inflasi di bawah 3,5%, tetapi apakah kenaikan harga mulai menyebar dari pangan dan energi menuju barang serta jasa lain.
Selama inflasi inti tetap di bawah 3%, tekanan masih relatif terkonsentrasi dan dapat ditangani terutama melalui kebijakan pasokan.
“Tetapi jika harga pangan, energi, rupiah dan biaya produsen naik secara bersamaan serta mulai mendorong inflasi inti, maka risiko terhadap daya beli, margin dunia usaha, suku bunga dan pertumbuhan ekonomi akan menjadi jauh lebih besar,” kata Josua.
(ell)





























