Logo Bloomberg Technoz

Penyebab kejatuhan harga emas adalah harapan damai di Timur Tengah. Di sela-sela acara Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengindikasikan siap untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.

Jika harga minyak bisa terus terkendali, maka dunia akan terbebas dari jeratan inflasi tinggi. Pada saatnya, ini akan membuat bank sentral di berbagai negara bisa mengendurkan kebijakan moneter. Tidak perlu lagi menaikkan suku bunga acuan.

Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga tinggi.

Susunan emas batangan. dok: Bloomberg

Analisis Teknikal

Lalu bagaimana prediksi gerak harga emas untuk hari ini, Rabu (23/9/2026)? Apakah bisa naik lagi atau kembali ke jalur koreksi?

Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), emas sedang tersangkut di zona bearish. Terlihat dari Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 49.

RSI di bawah 50 menandakan suatu aset sedang dalam posisi bearish. Namun RSI emas belum jauh dari 50 sehingga bisa dikatakan cenderung netral.

Kemudian indikator Stochastic RSI 14 hari ada di 60. Menghuni area beli (long) yang lumayan kuat.

Untuk perdagangan hari ini, harga emas sepertinya berisiko turun. Cermati pivot point di US$ 4.360/troy ons.

Dari situ, harga emas bisa saja menguji support US$ 4.343-4.338/troy ons. Target paling pesimistis adalah US$ 4.267/troy ons.

Namun andai harga emas masih kuat menanjak, maka US$ 4.374/troy ons rasanya bisa menjadi resisten terdekat. Penembusan di titik itu berpotensi mengantar harga emas ke rentang US$ 4.397-4.466/troy ons.

(aji)

No more pages