“Jadi, posisi fiskal sampai Agustus cukup sehat, tetapi belum bisa dianggap sebagai jaminan bahwa tekanan fiskal sudah selesai,” kata Yusuf.
Sementara itu jika dilihat dari sisi penerimaan, meski memiliki pertumbuhannya kuat, tetapi kualitasnya jugamasih perlu diperhatikan.
Dalam pemaparan Kementerian Keuangan, penerimaan pajak tumbuh tinggi dan PNBP juga sudah mencapai sebagian besar target tahunan. Namun, penerimaan masih cukup bergantung pada konsumsi, komoditas, migas, dan faktor administrasi.
PNBP yang tumbuh tinggi juga tidak semuanya bersifat struktural karena sebagian dipengaruhi kondisi komoditas.
“Karena itu, tantangan pemerintah bukan hanya mengejar penerimaan lebih tinggi, tetapi memperluas basis pajak dan meningkatkan kepatuhan secara berkelanjutan,” kata Yusuf.
Sehingga menurutnya, di kuartal IV-2026, pemerintah perlu menjaga disiplin fiskal tanpa mengurangi fungsi APBN sebagai penyangga ekonomi.
Belanja yang memang produktif harus dipercepat, tetapi belanja yang hanya mengejar serapan perlu ditahan. Subsidi juga perlu semakin tepat sasaran agar kenaikan harga energi tidak menghabiskan ruang fiskal yang seharusnya bisa digunakan untuk investasi dan perlindungan sosial.
Sementara untuk 2027, Yusuf memaparkan bahwa pekerjaan rumahnya cukup jelas. Dari sisi penerimaan, pemerintah perlu memperluas basis pajak dan meningkatkan kepatuhan tanpa memberikan tekanan berlebihan terhadap daya beli.
Dari sisi belanja, komposisinya perlu semakin diarahkan ke belanja yang memberikan dampak ekonomi dan sosial yang terukur.
Sementara dari sisi utang, defisit yang lebih rendah memang positif, tetapi pemerintah tetap perlu menjaga profil jatuh tempo, biaya bunga, dan keseimbangan primer.
Sebelumnya, Kementerian Keuangan melaporkan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sampai Agustus 2026 tercatat mengalami defisit sebesar Rp240,1 triliun atau 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini lebih rendah dibanding posisi pada periode yang sama tahun lalu, yakni Rp321,3 triliun atau 1,35% terhadap PDB.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyebutkan defisit ini masih jauh di bawah target defisit sepanjang 2026 yang sebesar -Rp689,1 triliun atau 2,68% terhadap PDB.
Posisi keseimbangan primer APBN 2026 mencatatkan surplus Rp154 triliun sampai Agustus 2026. Angka ini lebih tinggi dibanding nominal surplus pada periode yang sama tahun lalu Rp22,2 triliun.
(ell)





























