Georgieva berulang kali memperingatkan risiko dari meningkatnya tingkat utang dan mendesak negara-negara anggota IMF untuk mengambil langkah. Bulan lalu, dia mengatakan sebagian besar negara maju, termasuk AS, memiliki jalur utang yang membutuhkan “perhatian kebijakan”.
Georgieva mengatakan inflasi masih “membandel” dan “mungkin diperlukan” bagi bank sentral di seluruh dunia untuk mengikuti langkah Federal Reserve AS dan Bank Sentral Eropa (ECB) dalam menaikkan suku bunga. Dia mencatat bahwa biaya pinjaman yang lebih tinggi akan membuat pembayaran utang menjadi semakin sulit.
Gangguan pada sektor energi dan transportasi berdampak pada negara-negara produsen komoditas seperti Qatar, Kuwait, dan Irak, sehingga kemungkinan terjadi “kontraksi tajam” pada perekonomian mereka, kata Georgieva.
Meski demikian, Qatar—yang merupakan eksportir gas alam cair (LNG) terbesar kedua di dunia sebelum perang Iran pecah tahun ini—telah membangun sejumlah penyangga ekonomi yang “melindungi perekonomian saat ini,” ujarnya.
“Pasar negara berkembang saat ini memiliki kebijakan moneter yang sama atau bahkan lebih baik dibandingkan negara-negara maju, di mana tingkat utang telah melonjak,” tambahnya.
IMF, yang akan memperbarui proyeksinya untuk ekonomi global dan inflasi bulan depan, memperkirakan ekonomi Qatar menyusut 8,6% pada 2026.
Ketidakpastian jangka panjang di pasar LNG juga menjadi risiko terhadap prospek pertumbuhan Qatar, kata IMF. Sebelum perang Iran, IMF memperkirakan ekonomi negara tersebut akan tumbuh 6,1% tahun ini.
(bbn)





























