Kondisi atmosfer kering tersebut meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta meluasnya kabut asap akibat karhutla di berbagai wilayah Indonesia.
Meski kondisi kering masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia, hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat masih terjadi secara lokal yang dipengaruhi oleh dinamika pergerakan atmosfer.
Pada 14–16 September 2026, Gelombang Rossby Ekuatorial terpantau aktif di sekitar Sumatra bagian utara dan Kalimantan bagian utara. Selain itu, Gelombang Kelvin juga melewati sebagian besar Sumatra, Kalimantan, Sulawesi bagian utara hingga tengah, dan Papua bagian utara
Imbauan BMKG
BMKG mengimbau masyarakat untuk terus mengantisipasi dampak cuaca panas dan kondisi udara yang lebih kering seiring musim kemarau yang masih berlangsung.
“Penggunaan tabir surya diperlukan guna mengurangi paparan langsung sinar matahari. Masyarakat juga diimbau untuk menjaga kecukupan cairan tubuh terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, agar terhindar dari dehidrasi dan kelelahan,” kata BMKG.
Seiring menguatnya kondisi kering, masyarakat dan pemerintah daerah diimbau untuk menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan.
“BMKG meminta masyarakat tidak membakar sampah atau membuka lahan secara sembarangan, terutama di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, dan hutan, serta segera melaporkan jika menemukan indikasi titik api.”
(ell)






























