Sumber-sumber, yang meminta tidak disebutkan namanya karena diskusi bersifat tertutup, tersebut mengungkap perusahaan tertarik untuk mengambil kembali kendali atas dua ladang raksasa yang sebelumnya dimilikinya di wilayah Orinoco Belt—Petrovictoria dan Petromonagas—sebelum dinasionalisasi oleh mantan Presiden Hugo Chávez pada pertengahan tahun 2000-an.
Perusahaan juga ingin mengamankan hak pengelolaan atas dua ladang tambahan di wilayah Carabobo yang terletak di dekatnya.
Kembalinya ExxonMobil ke Venezuela akan menandai langkah besar dalam upaya Presiden AS Donald Trump untuk menghidupkan kembali sektor minyak negara tersebut sejak menggulingkan mantan pemimpin Nicolás Maduro.
Perusahaan raksasa minyak ini akan membawa modal dan keahlian yang signifikan untuk membangun kembali infrastruktur yang rusak parah, sekaligus menjadi sinyal meningkatnya kepercayaan terhadap iklim investasi di Venezuela.
Tidak ada jaminan bahwa pembicaraan ini akan berujung pada kesepakatan. Negosiasi antara ExxonMobil dan Venezuela berlangsung tidak menentu selama berbulan-bulan, di mana kemajuan terhambat oleh lamanya jeda komunikasi.
Juru bicara ExxonMobil menolak memberikan komentar.
Pemerintahan Trump sedang gencar mendorong perusahaan-perusahaan AS untuk menjalin kesepakatan dengan Venezuela guna memulihkan produksi.
Continental Resources Inc, produsen swasta AS yang dikendalikan oleh miliarder Harold Hamm, mengumumkan kesepakatan pada Rabu untuk masuk ke Venezuela. Sementara Chevron Corp, Eni SpA, dan beberapa perusahaan lain telah mengumumkan kesepakatan mereka dalam beberapa pekan terakhir.
CEO ExxonMobil, Darren Woods, pada Januari menyebut Venezuela saat ini "tidak layak untuk investasi," yang membuat Trump kecewa. Namun, Woods menambahkan bahwa negara tersebut memiliki potensi untuk menciptakan kondisi investasi yang tepat dengan bantuan Washington.
Tantangan besar masih tetap ada.
Meski Chevron tetap beroperasi di Venezuela setelah proses nasionalisasi dan selama masa sanksi, ExxonMobil saat ini tidak mengoperasikan ladang minyak apa pun di negara tersebut. Artinya, investasi baru apa pun akan membutuhkan modal besar.
Tidak ada jaminan bahwa kebijakan Trump terhadap Venezuela akan terus berlanjut, setelah masa kepresidenannya berakhir.
Selain itu, ada pertanyaan besar mengenai keberlanjutan reformasi fiskal dan regulasi yang telah diterapkan Venezuela untuk menarik perusahaan minyak asing.
"Anda bisa membayangkan bahwa untuk kembali masuk [ke pasar tersebut] untuk ketiga kalinya, diperlukan perubahan yang sangat signifikan," ujar Woods kepada Presiden AS Donald Trump dalam pertemuan di Gedung Putih pada Januari.
Baru-baru ini, Woods mengatakan keahlian ExxonMobil dalam mengolah minyak mentah heavy Kanada dapat memberikan keunggulan kompetitif di Venezuela, mengingat minyaknya memiliki tingkat viskositas serupa.
"Pekerjaan di bidang minyak heavy, serta perkembangan teknologi yang telah kami lakukan, menurut saya menempatkan kami pada posisi unik untuk memproduksi sumber daya minyak Venezuela dengan biaya rendah," katanya pada Mei.
ExxonMobil telah memegang posisi dominan di negara tetangga, Guyana, yang memiliki ladang minyak dengan pertumbuhan tercepat di dunia.
Kesepakatan yang ditandatangani Chevron dengan Venezuela awal bulan ini mengharuskan perusahaan menggandakan produksinya di sana menjadi lebih dari 600.000 barel per hari pada awal tahun 2030-an.
CEO Chevron Mike Wirth mengatakan langkah tersebut akan membutuhkan investasi sekitar US$7 miliar, meski perusahaan berencana membiayainya dari arus kas operasi yang sudah berjalan di Venezuela, bukan dengan menyuntikkan modal baru dari luar.
(bbn)





























