Sementara itu, smelter PT Freeport Indonesia (PTFI) di Manyar, Gresik kembali menerima pasokan konsentrat pada Agustus dan diperkirakan akan memproduksi katoda tembaga pada September.
Smelter tersebut sebelumnya berhenti beroperasi, sebab terdapat insiden longsor di tambang Grasberg Block Cave (GBC), sehingga pasokan bijih tembaga hanya mencukupi untuk smelter PT Smelting.
PTFI memperkirakan total produksi katoda gabungan dari kedua smelter tersebut akan mendekati 400.000 ton pada tahun ini.
Untuk diketahui, smelter pertama milik Freeport, PT Smelting, dibangun pada 1996 bersama konsorsium Jepang dan dioperasikan oleh Mitsubishi. PT Smelting terletak di Gresik, Jawa Timur dan menjadi smelter tembaga pertama di Tanah Air.
PT Smelting disebut mampu mengolah 1.00.000 ton konsentrat tembaga menjadi 300.000 ton katoda tembaga setiap tahunnya untuk memenuhi kebutuhan produksi di dalam maupun luar negeri.
Selanjutnya, Freeport memiliki smelter katoda tembaga di kawasan industri JIIPE, Manyar, Gresik, Jawa Timur. Pembangunan dimulai pada Oktober 2021, tetapi tertunda akibat pandemi Covid-19 sebelum akhirnya diresmikan pada Kamis (27/6/2024).
Smelter kedua PTFI ini merupakan smelter katoda tembaga dengan desain single line terbesar di dunia dan dirancang agar mampu memurnikan konsentrat tembaga dengan kapasitas produksi hingga 1,7 juta ton setelah beroperasi penuh.
Fasilitas ini dilengkapi unit refinery, unit pemurnian logam mulia, unit oksigen, unit asam sulfat, dan unit desalinasi serta unit effluent and wastewater treatment plant untuk mendukung pemanfaatan maksimal bahan baku, produk samping maupun limbah agar dapat mencapai proses peleburan dan pemurnian berefisiensi tinggi.
(ros)






























