Dua PLTB tersebut saat ini beroperasi secara maksimal, sebab hembusan angin justru semakin kencang ketika terjadi kekeringan.
Potensi PLTB
Lebih lanjut, Eniya menyatakan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) periode 2025—2034 telah memetakan pengembangan PLTB hingga 11 gigawatt (GW), namun dalam empat tahun belakang tidak terdapat investasi baru pembangunan PLTB.
Dia mengungkapkan sejumlah wilayah di Indonesia sebenarnya memiliki potensi angin yang mencukupi untuk dibangun PLTB, antara lain; Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Maluku.
“Selama ini, angin kan dianggap kombinasinya itu justru dengan PLTS. Itu salah di tempat kita; enggak menganut lagi sistem yang seperti itu. Itu pakemnya China, karena di China, anginnya pada malam hari ada. Kalau di kita, malam hari itu sedikit. Malah tinggi di siang, begitu. Akan tetapi, ada yang bisa 24 jam full,” terang Eniya.
Sekadar catatan, PLN mengungkapkan fenomena El Niño membuat PLTA di wilayah Sulbagsel kekurangan air, sehingga kapasitas daya pasoknya turun menjadi 250 megawatt (MW) dari kapasitas normal sekitar 850 MW.
Direktur Utama PT PLN Darmawan Prasodjo menargetkan proses pemulihan keseimbangan pasokan listrik dan kebutuhan listrik di Sulbagsel dapat rampung pada akhir bulan ini, seiring dilakukan sejumlah langkah normalisasi.
Darmawan menjelaskan perseroan mempercepat perbaikan pembangkit, mengoptimalkan pembangkit yang tersedia, serta menyiapkan tambahan kapasitas pembangkit hingga 627 MW.
Selain itu, PLN berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dalam pelaksanaan teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk meningkatkan potensi ketersediaan air bagi pembangkit hidro.
"Seluruh langkah ini kami jalankan secara paralel. Kami menargetkan pada akhir September 2026 pasokan dan kebutuhan listrik Sulbagsel dapat berangsur seimbang kembali. Prosesnya kami kawal dan evaluasi dari hari ke hari," kata Darmawan dalam siaran pers, Rabu (16/9/2026).
Darmawan mengungkapkan sejumlah pembangkit listrik tenaga hidro di Sulawesi yang mengalami penurunan produksi antara lain; PLTA Poso, Bakaru, Malea, serta sejumlah pembangkit listrik tenaga minihidro (PLTMH).
Adapun, Darmawan melakukan inspeksi ke pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Jeneponto berkapasitas 2 x 100 MW milik swasta yang terkendala oleh gangguan teknis hingga menyebabkan pasokan listrik berkurang.
"Setiap megawatt sangat berarti dalam kondisi seperti ini. Karena itu, kami membantu mempercepat perbaikan PLTU Jeneponto agar dapat segera kembali masuk ke sistem. Bersamaan dengan itu, kami terus mengoptimalkan pembangkit yang tersedia dan menyiapkan tambahan pasokan," kata Darmawan.
Di sisi lain, masyarakat di wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel) dan Kalimantan Tengah (Kalteng) mengeluhkan mengalami pemadaman listrik bergilir selama beberapa hari terakhir, bahkan kondisi tersebut juga terjadi pada Selasa (15/9/2026).
Dalam pengumuman yang diterbitkan PLN UP3 Barabai dijelaskan pemadaman terjadi karena terdapat gangguan yang terjadi pada sejumlah pembangkit listrik. Namun, perincian pembangkit yang mengalami gangguan belum diungkapkan.
(azr/wdh)































