Dengan begitu, Tony memproyeksikan produksi katoda tembaga sepanjang tahun ini dapat mencapai 800.000 juta pon. Sebanyak 600.000 juta pon berasal dari smelter PT Smelting, sedangkan 200.000 juta pon dari smelter Manyar.
"Harga per hari ini untuk tembaga itu US$6,5/pon dan proyeksi kita ke depannya dari 2026 sampai 2030 itu kira-kira sekitar US$6/pon," tegas Tony.
Pada kesempatan sebelumnya, Tony menjelaskan smelter tersebut bakal dibuka kembali pada kuartal III-2026 dan bakal meningkatkan kapasitas produksinya berbarengan dengan perbaikan tambang bawah tanah GBC.
“Kuartal III ramp up, tergantung konsentratnya. [Target beroperasi penuh] sama dong [seperti tambang GBC pada akhir 2027], tunggu konsentratnya penuh dia baru bisa penuh,” ungkap Tony ketika ditemui awak media, di Kompleks DPR, Rabu (10/6/2026).
Dalam kesempatan itu, Tony mengungkapkan operasional penuh tambang bawah tanah GBC ditargetkan menyentuh level 100% pada akhir 2027, usai dilakukan perbaikan gegara longsor akhir tahun lalu.
Tony menargetkan perbaikan tambang bawah tanah tersebut dapat mencapai level 65% pada semester II-2026. Kemudian, pada semester I-2027 perbaikan ditargetkan mencapai level 75%.
“Semester kedua ini bisa 65%. Semester pertama tahun depan itu bisa 75% dan menjelang akhir tahun itu menuju ke 100%,” ujar Tony.
Dalam kesempatan sebelumnya, Tony Wenas menjelaskan tingkat utilitas atau ramp up operasi smelter Manyar sempat mencapai 70% pada Agustus 2025, tetapi produksi smelter tersebut harus distop sementara usai longsor di GBC terjadi pada awal September 2025.
“Jadi smelter baru di Manyar di Gresik juga ini, sementara ini sampai akhir tahun masih belum berproduksi lagi Pak. Belum berproduksi lagi dan rencana baru akan mulai produksi pada triwulan kedua 2026,” kata Tony dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR, Senin (24/11/2025).
Lebih lanjut, saat ini terdapat dua tambang Freeport yang kembali beroperasi yakni Big Gossan dan Deep Mill Level Zone (DMLZ).
Dua tambang tersebut dapat memproduksi 70.000 ton konsentrat per hari atau setara 30% dari total kapasitas produksi tambang sebesar 210.000 ton per hari.
Tony memastikan seluruh konsentrat yang diproduksi dari dua tambang tersebut dipasok ke smelter PT Smelting di Gresik, Jawa Timur.
Sementara itu, smelter Manyar saat ini hanya mengolah lumpur anoda yang merupakan produk sampingan PT Smelting, lumpur anoda tersebut dimurnikan untuk diekstrak emas, perak, hingga mineral ikutan lainnya.
Untuk diketahui, smelter pertama milik Freeport yakni PT Smelting yang dibangun pada 1996 bersama konsorsium Jepang dan dioperasikan oleh Mitsubishi. PT Smelting terletak di Gresik, Jawa Timur dan menjadi smelter tembaga pertama di Tanah Air.
PT Smelting disebut mampu mengolah 1.00.000 ton konsentrat tembaga menjadi 300.000 ton katoda tembaga setiap tahunnya untuk memenuhi kebutuhan produksi di dalam maupun luar negeri.
Selanjutnya, Freeport memiliki smelter katoda tembaga di kawasan industri JIIPE, Manyar, Gresik, Jawa Timur. Pembangunan dimulai pada Oktober 2021, tetapi tertunda akibat pandemi Covid-19 sebelum akhirnya diresmikan pada Kamis (27/6/2024).
Smelter kedua PTFI ini merupakan smelter katoda tembaga dengan desain single line terbesar di dunia dan dirancang untuk mampu memurnikan konsentrat tembaga dengan kapasitas produksi hingga 1,7 juta ton setelah beroperasi penuh.
Fasilitas ini dilengkapi unit refinery, unit pemurnian logam mulia, unit oksigen, unit asam sulfat, dan unit desalinasi serta unit effluent and wastewater treatment plant untuk mendukung pemanfaatan maksimal bahan baku, produk samping maupun limbah agar dapat mencapai proses peleburan dan pemurnian berefisiensi tinggi.
(wdh)




























