Logo Bloomberg Technoz

"Dengan pasokan yang masih terbatas, dan cadangan komersial yang menipis dengan cepat, pengurangan permintaan lebih lanjut mungkin diperlukan dalam beberapa bulan mendatang untuk menutup kesenjangan tersebut."

IEA kini memperkirakan kontraksi konsumsi minyak terbesar sejak 2020. (Bloomberg)

Badan tersebut menyatakan dampak terhadap permintaan minyak hingga 2026 diperkirakan setara dengan empat guncangan terbesar dalam 60 tahun terakhir, di mana dampak paling signifikan terjadi pada produk middle distillate seperti solar dan bahan baku untuk pabrik petrokimia di Asia.

Harga minyak mentah Brent melonjak melampaui US$100 per barel pekan ini untuk pertama kali sejak Juli, seiring dengan kembali meletusnya ketegangan antara Iran dan AS. 

Harga minyak diperdagangkan mendekati US$104 per barel pada Jumat seiring meningkatnya intensitas pertempuran antara Houthi yang berbasis di Yaman dan pasukan yang didukung Arab Saudi. Hal ini menambah kekhawatiran terkait pengiriman minyak melalui wilayah selatan Laut Merah.

Meski demikian, menurut IEA, pasar sedang menuju kondisi defisit pasokan yang lebih parah daripada perkiraan sebelumnya karena perang tersebut berdampak lebih besar terhadap aliran minyak dibandingkan pada tingkat konsumsi.

Data terbaru lembaga tersebut menunjukkan defisit minyak global rata-rata sekitar 1,7 juta barel per hari tahun ini, dibandingkan dengan defisit 1,3 juta barel per hari dalam laporan bulan lalu.

Data tersebut juga menunjukkan cadangan minyak terus berkurang pada kuartal keempat, alih-alih mengalami kenaikan marginal seperti yang sebelumnya diperkirakan. Laporan IEA Agustus menyebut pasar akan kembali ke kondisi surplus menjelang akhir tahun ini.

IEA—yang menggambarkan krisis ini sebagai gangguan pasokan terparah dalam sejarah—menurunkan proyeksi pasokan global sebesar 1,3 juta barel per hari, menjadi penurunan tahunan sebesar 5,7 juta barel per hari, dan menyatakan perkiraan pemulihan telah ditunda hingga tahun depan. 

Akibatnya, data laporan tersebut menunjukkan pasokan dunia tahun ini diperkirakan akan mengalami defisit sekitar 1,75 juta barel per hari dibandingkan dengan permintaan tahun ini. IEA menyebut antara Februari dan Agustus, tingkat persediaan menurun dengan laju lebih tajam, yakni sebesar 2,8 juta barel per hari.

(bbn)

No more pages