Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi atau SNLIK 2026 oleh Otoritas Jasa Keuangan, indeks inklusi keuangan nasional telah mencapai 93,61%, sedangkan literasi keuangan baru 69,57%. Namun, kelompok usia 15–17 tahun masih memiliki tingkat inklusi keuangan di bawah rata-rata nasional.
Ukuran Keberhasilan Program Ini
Saat ini, Pemerintah sedang merancang mekanisme agar masyarakat dapat memperoleh rekening secara otomatis tanpa harus datang langsung ke kantor bank lewat kerjasama dengan Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) untuk memanfaatkan data kependudukan.
Bagi masyarakat kurang mampu akan disediakan setoran awal di rekening sebesar Rp50 ribu. Rekening ini akan disiapkan melalui dua bank Himbara, yakni Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Syariah Indonesia (BSI).
Menurut Joshua, pengintegrasian tersebut memang dapat menjadi alat yang sangat berguna, untuk pemberantasan judi daring dan kejahatan keuangan. Dengan identitas yang lebih kuat membuat aliran dana lebih mudah dilacak, hubungan antar rekening dapat dipetakan dan pemblokiran lebih cepat dilakukan.
Kebijakan ini juga harus disertai dengan kemampuan sistem bank mendeteksi pola satu perangkat mengendalikan banyak rekening, perputaran uang masuk-keluar yang tidak wajar, serta jaringan rekening yang berulang kali berhubungan dengan akun yang telah diblokir.
Pada saat yang sama, mekanisme pembekuan harus cepat tetapi harus menyediakan prosedur keberatan yang juga cepat bagi nasabah yang tidak bersalah.
"Kesimpulan saya, arah kebijakan rekening universal layak didukung, tetapi pemerintah jangan menjadikan jumlah rekening sebagai sasaran akhirnya," ujarnya.
Joshua menambahkan bahwa keberhasilan program ini seharusnya diukur dari jumlah rekening yang aktif, penurunan biaya dan waktu penyaluran bantuan sosial, peningkatan tabungan masyarakat, berkurangnya penggunaan uang tunai, hingga penurunan penipuan dan judi daring.
(roy)































