Logo Bloomberg Technoz

“Gabungan kedua wilayah kerja ini menyumbang porsi raksasa. Rokan rata-rata menyumbang sekitar 25% hingga 30% dan Blok Cepu berkontribusi sekitar 25%,” jelasnya. 

Jika ditotal, kedua blok ini saja bertanggung jawab atas sekitar 50% atau separuh dari seluruh pasokan minyak bumi Indonesia.  

Namun, tantangan terbesar yang dihadapi kedua blok andalan ini adalah fenomena sharp decline atau penurunan produksi secara tajam secara alami. 

Lapangan Tua

Blok Rokan yang dikendalikan oleh PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) tergolong lapangan tua (mature field) mengalami tingkat penurunan alami (natural decline rate) cukup tinggi setiap tahunnya jika tidak diintervensi, karena cadangan utamanya sudah dikuras selama puluhan tahun. 

Sementara itu, Blok Cepu yang dikendalikan oleh ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) juga mulai memasuki fase penurunan alami reservoir setelah melewati masa puncak produksinya di Lapangan Banyu Urip, sehingga laju aliran minyak dari perut bumi secara bertahap terus berkurang dari waktu ke waktu.

Guna mengejar target produksi secara optimal, Hadi mencatat ada beberapa langkah ikhtiar maksimal yang sebetulnya dapat diupayakan oleh industri migas, antara lain:

  1. Program perawatan dan perbaikan sumur (wellwork program) untuk menjaga keandalan fasilitas produksi.
  2. Pengeboran sumur sisipan (infill well) guna memproduksi sisa minyak di antara sumur yang sudah ada.
  3. Penerapan multi-stage fracturing (MSF) pada batuan reservoir bertipe low-quality reservoir (LQR) untuk memperluas alir hidrokarbon.
  4. Penyusunan maximum maintenance plan (MMP) demi mengurai kendala kapasitas fasilitas produksi (debottlenecking facilities).
  5. Percepatan rencana pengembangan atau plan of development (PoD) serta penyampaian rencana komersialisasi atau plan of produce (PoP) untuk lapangan-lapangan migas baru.
  6. Penerapan teknologi pengurasan minyak tahap lanjut seperti enhanced oil recovery (EOR).
  7. Pengembangan potensi migas nonkonvensional (MNK).

“Langkah-langkah ini sangat krusial agar pasokan minyak nasional tidak merosot drastis di tengah besarnya ketergantungan Indonesia pada kedua blok tersebut,” jelasnya. 

Sebelumnya, penurunan produksi dua wilayah kerja (WK) migas ini telah disampaikan oleh Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Laode Sulaeman dalam RDP dengan Komisi XII DPR, Rabu (26/8/2026).

Berdasarkan data yang dipaparkan, realisasi produksi minyak Blok Cepu per Juli 2026 baru mencapai 124.266 bph atau 83,7% dari target lifting dalam APBN 2026 yaitu 148.500 bph. Angka produksi siap jual itu itu juga turun dari realisasi 2025 yang mencapai 151.166 bph.

"Memang Blok Cepu ini pada2026 ini memiliki kondisi natural decline yang agak ekstrem," ungkap Laode.

Laode mengakui pemerintah sudah melakukan serangkaian diskusi dengan operator wilayah kerja (WK) yakni ExxonMobil, dan sudah diambil langkah-langkah untuk melakukan upaya agar natural decline ini dapat direduksi.

"Sehingga saat ini kondisi yang terjadi di lapangan adalah mempertahankan untuk datar. Jadi jangan turun lagi seperti itu yang kita lakukan dengan lapangan cepu," tegas Laode.

Sementara itu, untuk Blok Rokan, dalam data yang dipaparkan Kementerian ESDM, sampai pada Juli 2026 ini realisasi produksinya baru mencapai 133.581 bph atau 81,5% dari target lifting APBN 2026 mencapai 163.859 bph.

Laode menyampaikan penurunan ini terjadi akibat kendala sistem kelistrikan yang hingga saat ini masih terkendala. 

"Kami upayakan agar pembangkit ini nanti bisa segera kita perbaiki dan dioperasikan kembali sehingga bisa optimal kembali produksi di Blok Rokan," ungkap Laode.

Di sisi lain, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menargetkan lifting minyak bumi pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran 2027 sebesar 612.500 bph.

“Saya beberapa hari lalu sudah melakukan komunikasi dengan beberapa kementerian dan pimpinan yang lain itu [lifting] di sekitar 612.500 bph supaya kerja Kepala SKK Migas juga kelihatan,” kata Bahlil dalam agenda Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi XII DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Senin (31/8/2026).

Bahlil menambahkan angka ini disepakati dari kisaran awal asumsi nota pengantar APBN 2026 yang berada pada rentang 605.000 hingga 620.000 bph, sekaligus naik dibandingkan dengan target APBN 2026 sejumlah 610.000 bph.

Nah, pada 2027 kita memang ancang-ancang dalam nota pengantar APBN awal asumsi itu kan 605.000 sampai 620.000 barrel per day. Nah, tadi kita sepakati menjadi 612.500 barrel per day,” jelas Bahlil.

(wdh)

No more pages