Sementara surat utang pemerintah Jepang dan Singapura naik masing-masing 3,2 bps dan 3,1 bps ke 2,9% dan 2,3%. Kemudian, yield surat utang pemerintah Malaysia juga naik 2,7 bps ke 4,07%. Lalu Filipina 2,1 bps ke 7,25%, dan Thailand naik 2,5 bps ke 2,25%.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pelemahan di pasar surat utang terjadi secara serempak di kawasan usai harga energi kembali melambung, dan memperkuat ekspektasi inflasi global, khususnya di pasar Amerika Serikat (AS).
Pelaku pasar merespons kekhawatiran inflasi dan adanya ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Fed dengan melakukan aksi jual terhadap surat utang pemerintah AS. Hal ini tercermin pada kenaikan yield obligasi AS, US Treasury 10 tahun yang sempat menyentuh 4,84%, posisi tertinggi sejak Oktober 2023.
Reaksi investor di pasar surat utang domestik hari ini pun berbalik arah, setelah kemarin menguat dengan aktivitas transaksi di pasar sekunder meningkat menjadi sekitar Rp19,8 triliun, dari Rp14,1 triliun pada sesi sebelumnya, dan membuat yield tenor 10 tahun sempat turun di kisaran 7,1%.
Kenaikan biaya energi yang tercermin dari harga Brent di atas US$100/barel meningkatkan risiko inflasi, yang membuat bank sentral memiliki ruang lebih sempit untuk melonggarkan kebijakan. Pelaku pasar sepertinya kini bertaruh dan kembali memperhitungkan bahwa suku bunga global akan bertahan tinggi lebih lama.
Dari pasar Amerika Serikat (AS), investor memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga acuan ke 3,75-4%, dengan perkirakaan sekitar 60%.
Jika The Fed benar-benar mengambil langkah tersebut, pengetatan itu berpotensi mengerek yield US Treasury dan membuat investor kembali menghitung ulang risiko melalui yield surat utang di negara-negara berkembang.
Kenaikan Yield di Indonesia Terbatas
Meski begitu, di antara pergerakan yield obligasi tenor 10 tahun di kawasan, sejatinya kenaikan yield surat utang pemerintah Indonesia lebih terbatas, yakni 1,1%. Kenaikan yield ini lebih kecil daripada Korea Selatan, Selandia Baru, Singapura, Jepang, maupun Filipina.
Ekonom Bloomberg Economics Tamara Henderson menilai, tekanan yang lebih terbatas disumbang oleh rekam jejak Indonesia yang lebih baik dalam menjaga inflasi dan defisit anggaran dibandingkan AS.
Sebagai catatan, inflasi tahunan Indonesia secara rata-rata bergerak di kisaran 2,7%. Sementara AS rata-rata inflasi tercatat 3,4% secara tahunan. Begitu juga dengan defisit anggarannya. Indonesia mencatat defisit 2,9% dari PDB pada tahun lalu. Sedangkan defisit anggaran AS tercatat 5,3% PDB.
Bloomberg Economics memperkirakan defisit anggaran AS akan melampaui 6% dari PDB pada 2026-2028. Sedangkan Indonesia memiliki undang-undang yang mengatur batas defisit serta komitmen pemerintah bahwa defisit tidak melampaui 3% dari PDB.
(dsp/aji)































