Meski perekonomian negara-negara tersebut relatif lebih terpengaruh oleh fluktuasi harga minyak dan gas dibandingkan China, kata Pitt, masih terlalu dini untuk mengatakan seberapa besar pertumbuhan mereka terkait dengan kekhawatiran ketahanan energi akibat perang di Iran.
Perlambatan paling tajam terjadi pada investasi manufaktur tenaga surya, industri selama ini terkendala kelebihan kapasitas. Investasi manufaktur tenaga surya turun 62% menjadi US$8,8 miliar pada periode Januari hingga Juni. Investasi pembangkit listrik tenaga surya turun 33% pada paruh pertama tahun ini.
Pangsa China dalam investasi manufaktur teknologi bersih secara global turun ke rekor terendah kuartalan sebesar 33% pada periode April hingga Juni. Sebaliknya, pada puncaknya pada kuartal pertama 2023, China menyumbang 71% dari investasi manufaktur teknologi bersih global.
"Seiring terus menurunnya investasi baru di sektor manufaktur teknologi bersih di China, kawasan lain memainkan peran yang semakin besar dalam mendorong investasi global," ungkap Pitt, meski pangsa kapasitas yang ada di kawasan tersebut masih relatif rendah.
Pangsa investasi baru India tumbuh dari 2% menjadi 7% antara kuartal pertama 2023 dan kuartal kedua 2026, sedangkan pangsa Eropa meningkat dari 6% menjadi 16% selama periode yang sama.
Distribusi regional investasi manufaktur tenaga surya khususnya mengalami pergeseran. Pangsa India naik dari 5% menjadi 48% selama periode yang sama.
Penurunan global ini membuat nilai investasi teknologi bersih pada paruh pertama tahun ini kembali ke level tahun 2024, di mana tercatat investasi sebesar US$762 miliar pada paruh pertama.
Investasi manufaktur berpotensi kembali meningkat pada kuartal-kuartal mendatang. Laporan ini menunjukkan bahwa investasi manufaktur dan industri yang diumumkan mengalami peningkatan secara kuartalan pada periode Januari hingga Maret 2026 dan tetap stabil pada periode April hingga Juni.
(ros)
































