Logo Bloomberg Technoz

Meski LFP Murah, EV Baterai Nikel Diramal Laris Jika Ada PPN DTP

Sabrina Mulia Rhamadanty
09 September 2026 15:30

Ilustrasi baterai LFP. (Unsplash/Kumpan Electric)
Ilustrasi baterai LFP. (Unsplash/Kumpan Electric)

Bloomberg Technoz, Jakarta – Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) menilai wacana insentif pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP) 100% untuk baterai kendaraan listrik berbasis baterai nikel bakal membuat baterai nickel manganese cobalt (NMC) lebih kompetitif dari lithium ferro phosphate (LFP).

Dalam kaitan itu, Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusumah menjelaskan baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) berbasis LFP memiliki struktur biaya bahan baku yang lebih murah 20% hingga 30%, sehingga membuatnya lebih berdaya saing ketimbang baterai NMC. 

"Baterai LFP memiliki struktur biaya bahan baku yang lebih murah 20%—30% dibandingkan dengan NMC karena tidak menggunakan nikel dan kobalt. FINI melihat dengan adanya diskon PPN DTP, keunggulan diferensiasi harga ini diharapkan mendorong produsen yang tadinya mempertimbangkan beralih ke LFP untuk tetap bertahan atau meluncurkan model baru berbasis nikel,” kata Arif saat dihubungi, Rabu (9/9/2026).


Adapun, pemerintah telah merancang kebijakan pembedaan tarif PPN DTP, yakni sebesar 100% untuk EV berbasis baterai nikel serta sebesar 40% untuk EV nonnikel seperti LFP. 

FINI berpandangan skema fiskal ini memegang peranan strategis dalam memperkuat rantai pasok hilirisasi nikel di dalam negeri sekaligus menopang pertumbuhan industri pengolahan nikel nasional dalam jangka panjang.