Logo Bloomberg Technoz

Kenaikan harga energi menambah kekhawatiran terhadap inflasi ketika investor mempertimbangkan kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat. Sejumlah data ekonomi AS akan dirilis pekan ini, dengan laporan inflasi pada Jumat menjadi perhatian utama karena dapat menentukan apakah Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga atau mempertahankannya.

"Pasar akan menyesuaikan posisi menjelang periode blackout The Fed. Risikonya adalah The Fed berubah menjadi lebih hawkish dan hal itu akan tercermin pada saham," kata Geoff Yu, Senior Macro Strategist di BNY. "Pasar obligasi akan tetap gelisah dan kami tetap fokus pada volatilitas pendapatan tetap."

Di Asia, yen akan tetap menjadi perhatian setelah mata uang tersebut secara tiba-tiba memperpanjang penguatannya pada Senin, dengan sempat naik hingga 1,4% menjadi 154,06 per dolar AS dalam perdagangan London. Tidak ada pemicu yang jelas, dengan sejumlah pelaku pasar menunjuk pada likuiditas yang tipis selama libur nasional di AS, sementara lainnya mengaitkannya dengan penembusan level penting 155.

Yen mulai menguat pekan lalu seiring meningkatnya taruhan terhadap kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ) yang memicu perubahan tajam dalam sentimen terhadap mata uang Jepang tersebut.

Di pasar komoditas, harga tembaga melonjak ke rekor tertinggi di London Metal Exchange, melanjutkan reli selama beberapa pekan yang didorong oleh ekspektasi bahwa Donald Trump akan memperluas tarif AS terhadap impor logam olahan. Harga emas juga menguat pada awal perdagangan Selasa.

Meski data ekonomi AS diperkirakan menjadi katalis utama pasar pekan ini, laporan kinerja perusahaan juga akan membantu membentuk prospek sektor-sektor saham utama. Laporan keuangan Oracle Corp dan Adobe Inc pada Kamis akan memberikan gambaran terbaru mengenai belanja infrastruktur kecerdasan buatan atau AI serta ancaman teknologi tersebut terhadap perusahaan perangkat lunak.

"Selama laba korporasi tetap berada dalam tren kenaikan, setiap pelemahan harga saham akan membuat valuasinya lebih murah," tulis para analis JPMorgan Chase & Co yang dipimpin Mislav Matejka. "Kami percaya investor sebaiknya terus memanfaatkan pelemahan untuk menambah portofolio."

(bbn)

No more pages