Sebagian mata uang kawasan menguat tertopang oleh sentimen domestiknya masing-masing. Meski The Fed diperkirakan akan kembali mengambil langkah hawkish dengan capaian angka ketenagakerjaan yang secara mengejutkan terdongkrak naik jadi 162 ribu lapangan kerja pada Agustus, arah kebijakan The Fed masih baru akan terlihat setelah data inflasi dirilis pada pekan ini (11 September).
Jika inflasi AS kembali menunjukkan kenaikan, ekspektasi higher for longer berpotensi menguat dan dapat memperbesar tekanan terhadap aset negara berkembang, termasuk rupiah.
Masalah bagi rupiah bisa jadi lebih kompleks lantaran tekanan eksternal ini datang bersamaan dengan kenaikan harga minyak. Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia berpotensi menghadapi risiko imported inflation serta meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor energi, serta memperlebar tekanan terhadap transaksi berjalan.
Bank Indonesia (BI) mengumumkan transaksi berjalan Indonesia tercatat defisit US$ 12,5 miliar atau 3,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Jauh melebar ketimbang defisit kuartal sebelumnya yakni US$ 3,6 miliar (1% PDB).
BI menyebut transaksi berjalan mencatat defisit yang lebih tinggi didorong kenaikan defisit neraca perdagangan migas dan penurunan surplus neraca perdagangan non-migas. Defisit neraca perdagangan migas meningkat akibat kenaikan impor minyak sejalan tingginya harga minyak dunia.
Di sisi lain, tekanan bagi Indonesia juga datang dari kejadian bencana alam yang menimpa secara serempak, termasuk aktivitas erupsi dari Gunung Anak Krakatau. Dampak erupsi itu turut menambah kompleksitas risiko ekonomi domestik dengan adanya terbatasnya aktivitas transportasi dan menciptakan risiko terganggunya rantai pasok, khususnya ke wilayah barat Indonesia.
Pelaku pasar akan mencermati penanganan bencana sambil terus menghitung potensi dampaknya terhadap aktivitas ekonomi, terutama jika gangguan transportasi dan dibatasinya aktivitas luar rumah berlangsung lebih lama.
Di tengah sejumlah faktor penekan baik dari sisi domestik dan eksternal, rupiah berpotensi kembali terkonsolidasi di rentang Rp17.650-17.750/US$.
(riset)



























