Logo Bloomberg Technoz

Rupiah di Bawah Bayang-Bayang The Fed dan Harga Minyak

Tim Riset Bloomberg Technoz
07 September 2026 08:15

Karyawan merapihkan mata uang dolar AS dan rupiah di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan mata uang dolar AS dan rupiah di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah spot diperkirakan kembali terkonsolidasi pada Senin (7/9/2026), setelah menguat pada hari terakhir pekan lalu. Di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF), rupiah defensif dengan pelemahan terbatas 0,08% ke Rp17.679/US$. 

Pemberat laju rupiah hari ini datang dari sisi eksternal dan domestik. Dari sisi eksternal, harga minyak Brent kembali terkerek naik 0,21% ke US$96,41/barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$92/barel.

Kenaikan harga minyak kembali terjadi, setelah Amerika Serikat (AS) menyerang kapal tanker Iran, dan Teheran mengumumkan zona terbatas baru di luar Selat Hormuz. Kejadian itu meningkatkan kekhawatiran bahwa gangguan terhadap arus energi melalui jalur perairan itu akan berlangsung lebih lama.


Kemudian data ketenagakerjaan AS yang secara mengejutkan bertambah 162 ribu lapangan kerja pada Agustus membuat bank sentral negara berkembang mencermati langkah bank sentral AS, Federal Reserve. Dengan capaian tersebut, bank sentral AS diperkirakan akan fokus pada upaya menurunkan angka inflasi dengan mengerek suku bunga acuan.

"Laju pertumbuhan lapangan kerja telah membaik dan tampaknya berada di atas tingkat pertumbuhan yang diperlukan untuk menjaga tingkat pengangguran tetap stabil. Hal ini akan memperkuat alasan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan September," kata Anna Wong, Ekonom Bloomberg Economics, dalam catatannya.