Ekonom Beber Tantangan Indonesia di Tengah Lesunya Ekonomi AS
Redaksi
07 September 2026 10:10

Bloomberg Technoz, Jakarta - Perekonomian Amerika Serikat yang tengah menghadapi tantangan dengan tekanan inflasi yang masih terlalu tinggi, dan ruang kebijakan bank sentral yang semakin sempit membuat potensi stagflasi di AS semakin terbuka.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai kondisi AS saat ini merupakan kombinasi pertumbuhan yang kehilangan tenaga, tekanan inflasi yang masih terlalu tinggi, dan ruang kebijakan bank sentral yang semakin sempit.
Hal ini dibuktikan dengan catatan pertumbuhan AS pada triwulan II 2026 diperkirakan hanya sekitar 1,5% secara tahunan. Pada saat yang sama, inflasi konsumen Juli masih 3,4% secara tahunan, sedangkan inflasi inti 2,5%, masih di atas sasaran 2% bank sentral AS. Daya beli pekerja juga menunjukkan tekanan karena rata-rata upah riil per jam pada Juli turun 0,2% dibandingkan setahun sebelumnya.
“Namun ekonomi AS belum mengalami kontraksi dan proyeksi penganggurannya sekitar 4,3%, sehingga kita belum melihat stagflasi berat seperti episode historis. Risiko utamanya adalah pertumbuhan terus melambat tetapi inflasi berhenti turun atau kembali naik, terutama akibat energi, tarif, dan gangguan pasokan,” kata Josua kepada Bloomberg Technoz baru-baru ini.
Josua memberi catatan bahwa dilema kebijakan Bank Sentral AS bisa menjadi tekanan global. Jika pertumbuhan melemah, secara normal suku bunga dapat diturunkan. Tetapi apabila inflasi masih berada di atas sasaran, pelonggaran terlalu cepat berisiko membuat inflasi kembali meningkat.





























