Logo Bloomberg Technoz

Menanti Arah The Fed, Rupiah Terkonsolidasi ke Rp17.650/US$

Tim Riset Bloomberg Technoz
07 September 2026 09:10

Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah membuka perdagangan Senin (7/9/2026) dengan pelemahan 0,1% ke Rp17.654/US$, menyusul tekanan yang terjadi pada harga energi dengan kenaikan harga minyak. 

Brent tercatat naik 0,36% ke US$96,63/barel, disusul West Texas Intermediate (WTI) ke US$92,09/barel. Sementara, indeks dolar Amerika Serikat (AS) masih bertahan stabil di 99,11. 

Kenaikan harga minyak dipicu oleh aksi saling serang antara AS dan Iran di Selat Hormuz yang kembali memicu kekhawatiran terjadinya gangguan pasokan minyak. 


Namun begitu, sebagian mata uang Asia tetap bergerak di zona hijau. Penguatan paling tajam terjadi pada won Korea Selatan 0,88%, disusul dolar Taiwan 0,16%, yen Jepang 0,11%, baht Thailand 0,04%, dan dolar Hong Kong 0,01%. 

Sebaliknya, peso Filipina melemah 0,21%, disusul rupiah, ringgit Malaysia, dan dolar Singapura, kemudian yuan offshore 0,03%. 

Pergerakan mata uang Asia. (Bloomberg)