Logo Bloomberg Technoz

Koreksi harga emas disebabkan oleh rilis data ketenagakerjaan di Amerika Serikat (AS). Akhir pekan lalu, US Bureau of Labor Statistics melaporkan bahwa perekonomian Negeri Paman Sam menciptakan 162.000 lapangan kerja non-pertanian (non-farm payrolls) sepanjang Agustus. Jauh di atas bulan sebelumnya yang sebesar 21.000 dan perkiraan pasar di angka 56.000.

Adapun tingkat pengangguran Agustus adalah 4,1%. Tidak berubah dari posisi Juli.

Pasar tenaga kerja AS yang solid membuat pelaku pasar melihat ada kemungkinan yang cukup besar bahwa bank sentral Federal Reserve akan menaikkan suku bunga acuan dalam rapat bulan ini. Mengutip CME FedWatch, probabilitas kenaikan Federal Funds Rate dalam rapat September saat ini ada di 58,3%.

Inflasi AS masih cukup tinggi, di atas target 2%. Ditambah dengan pasar tenaga kerja AS yang berdaya tahan, maka sepertinya kenaikan suku bunga acuan menjadi lebih sulit untuk terhindarkan.

Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga tinggi.

“Pergerakan harga emas adalah respons dari data ketenagakerjaan yang mengejutkan. Data ini mendorong yield obligasi ke atas dan dolar AS menguat, karena pasar berekspektasi The Fed akan mengetatkan kebijakan moneter. Ini menjadi tantangan bagi emas,” jelas Ewa Manthey, Commodity Strategist di ING Bank, seperti dikutip dari Bloomberg News.

(aji)

No more pages