Logo Bloomberg Technoz

Meski masih menghadapi tantangan, Dian memperkirakan kondisi likuiditas perbankan akan mulai membaik secara bertahap ke depan. Perbaikan tersebut diharapkan didukung oleh kebijakan pemerintah, baik dari sisi fiskal maupun moneter.

“Ke depan kita memproyeksikan situasi akan mulai gradual akan ada perbaikan, terutama dari sisi likuiditas perbankan,” ujarnya.

Menurutnya, perbaikan likuiditas perbankan pada akhirnya dapat memberikan ruang bagi pertumbuhan kredit untuk kembali meningkat.

“Topangan kebijakan pemerintah, baik fiskal maupun moneter terhadap likuiditas perbankan, ini akan bisa mendorong pertumbuhan kredit ke depan untuk bisa lebih baik lagi,” katanya.

Sebelumnya Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengakui likuiditas perbankan belum terdistribusi secara merata di tengah pertumbuhan kredit yang terus melampaui pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK).

Destry mengungkapkan, secara industri, kondisi likuiditas perbankan masih cukup baik. Rasio alat likuid terhadap DPK (AL/DPK) berada di kisaran 13%-24%, sementara likuiditas uang beredar dalam arti base money (M0) juga tumbuh di atas 15% pada Juli-Agustus 2026.

Namun, kondisi tersebut belum mencerminkan pemerataan likuiditas di seluruh perbankan. Destry mengatakan BI melihat kondisi masing-masing bank secara lebih granular, termasuk melalui 

"Kalau dilihat, loan to deposit ratio  bank tidak merata, artinya likuiditas yang ada di industri itu tersegmentasi, jadi tidak terdistribusi secara merata. Ini yang menjadi PR kita," ucap Destry dalam paparan Sarasehan 100 Ekonom di Hotel Kempinski, Jakarta, Kamis (3/9/2026). 

Dia menambahkan, tingginya LDR terutama terlihat pada kelompok bank BUMN yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Kondisi tersebut sejalan dengan pertumbuhan kredit Himbara yang lebih tinggi dibandingkan kelompok bank swasta.

(ell)

No more pages