Pukulan kedua, menurut Sawit Watch, berkaitan dengan lonjakan harga CPO di pasar domestik maupun internasional.
Keterbatasan pasokan akibat penurunan produksi memicu kenaikan harga bahan baku, yang pada akhirnya membebani biaya produksi para produsen biodiesel.
Persaingan Ketat
Situasi ini dinilai memicu persaingan ketat antara pemenuhan kebutuhan minyak goreng untuk konsumsi masyarakat dan alokasi untuk program mandatori biodiesel pemerintah.
"Ini menjadi pukulan ganda. Di satu sisi pasokan bahan bakunya menyusut, di sisi lain harganya melonjak naik. Produsen biodiesel akan kesulitan menjaga efisiensi biaya produksi, dan pada saat yang sama ada risiko perebutan bahan baku antara industri pangan dan energi," lanjut Achmad.
Sawit Watch pun mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah antisipatif agar gejolak ini tidak memperburuk tata kelola industri sawit nasional.
Evaluasi terhadap target mandatori biodiesel khususnya sebelum melompat dari B50 ke B60 dinilai perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak mengorbankan stabilitas pasokan minyak goreng dalam negeri.
"Pemerintah harus bijak dan tidak bisa memaksakan target biodiesel tanpa melihat realitas pasokan di tingkat tapak. Evaluasi berkala sangat penting agar beban akibat dampak iklim ini tidak melimpah pada petani kecil maupun konsumen akhir," pungkas Achmad.
Sebelumnya, pakar energi dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyakti menyatakan fenomena El Niño berpotensi meningkatkan biaya produksi biodiesel.
Akibatnya, margin keuntungan produsen biodiesel terkikis tajam dan memperlebar selisih (spread) antara harga indeks pasar (HIP) biodiesel dengan harga solar fosil, padahal Indonesia sedang mengimplementasikan mandatori biodiesel 50% atau B50.
"Ya. Biaya produksi biodiesel naik karena bahan bakunya atau CPO ini menjadi mahal karena penurunan produksi akibat El Niño tadi. Selisih HIP Biodiesel dikurangi HIP Solar—yakni subsidi per liter—melebar tajam, karena sekitar 85% biaya membuat biodiesel ini adalah harga CPO sendiri," ungkap Yayan saat dihubungi, Rabu (2/9/2026).
Yayan menjelaskan kenaikan biaya produksi tersebut terjadi secara otomatis saat El Niño mendongkrak harga CPO.
Penetapan HIP Biodiesel yang berbasis pada harga CPO ditambah ongkos olah sebesar US$85/ton menyebabkan nilainya ikut melambung.
Di sisi lain, HIP Solar yang mengacu pada harga minyak dunia relatif stabil pada kisaran US$80/barel. Pergerakan kedua harga patokan ke arah yang berlawanan ini akhirnya memicu pelebaran jarak subsidi per liter.
"Perlu dicatat juga kalau selisih ini melawan arah. Justru paling lebar ketika harga minyak rendah, tetapi harga CPO tinggi; persis kondisi yang diciptakan dari efek El Niño sekarang. Kalau normalnya, selisih itu sekitar Rp1.900–4.100 per liter," ungkapnya.
Situasi pengetatan produksi dan pembengkakan beban operasional ini dikhawatirkan dapat memicu gangguan penyaluran biodiesel untuk program mandatori, sekaligus menekan kemampuan skema insentif pendanaan industri energi terbarukan di dalam negeri.
(smr/wdh)




























