Untuk itu, BI akan mengombinasikan kebijakan suku bunga dengan instrumen lainnya, terutama kebijakan makroprudensial. Instrumen tersebut akan digunakan untuk memberikan ruang bagi sektor riil dan perbankan agar tetap dapat mendukung pertumbuhan ekonomi, tanpa mengorbankan stabilitas.
"Kalau kita hanya mengandalkan kebijakan moneter itu pasti tidak akan cukup karena kita di satu sisi meghadapi higher for longer dari global. Jadi apa yang kita lakukan? Kita kombinasikan dengan kebijakan lainnya," tegasnya.
Kondisi Ekonomi Global
Sebagai contoh, Destry mengatakan kondisi ekonomi dunia yang semakin kompleks akan memberikan dampak terhadap perekonomian Indonesia.
Misalnya, kondisi ekonomi Amerika Serikat (AS), Eropa, dan negara-negara maju lainnya yang masih menghadapi persoalan inflasi tinggi. Kondisi tersebut membuat ruang bagi bank sentral di negara-negara tersebut untuk menurunkan suku bunga menjadi lebih terbatas karena dikhawatirkan kembali mendorong inflasi.
Di AS, tingginya inflasi juga tercermin dari imbal hasil atau yield obligasi pemerintah yang masih tinggi. Destry mencatat yield obligasi tenor 30 tahun berada di atas 5,3%, sementara tenor 10 tahun berada di kisaran 4,6%.
Angka tersebut disebutnya lebih tinggi dibandingkan kondisi normal yang berada di sekitar 3%.
Di sisi lain, indeks dolar AS atau DXY juga masih menjadi perhatian. Menurut Destry, persoalan yang dihadapi Amerika Serikat semakin kompleks karena di tengah tekanan inflasi, pertumbuhan ekonominya justru melambat dibandingkan periode sebelumnya.
"Jadi apa yang kita hadapi sekarang ini makin kompleks, karena saling berkaitan satu isu dengan isu lain [yang] makin tinggi," jelasnya.
(lav)































