Logo Bloomberg Technoz

Singgih menilai jika harga batu bara Indonesia, utamanya dari Kalimantan, bergerak di atas US$140/ton, negara importir batu bara Indonesia seperti China bakal mengkerek produksi nasionalnya.

Dia menyatakan harga batu bara di atas level tersebut berpotensi memperberat industri manufaktur di negara tersebut, sehingga mereka bakal mengkerek produksi nasional untuk mensubstitusi pasokan.

“Mengingat batu bara dibutuhkan untuk kepentingan energi bagi manufaktur mereka [China], di atas itu akan tidak membantu produksi manufaktur untuk kompetisi di pasar ekspor,” tegas dia.

Ekspor Terganggu

Dihubungi terpisah, Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Sudirman Widhy Hartono menilai kekeringan di sungai Barito cukup berdampak terhadap terganggunya ekspor batu bara.

Alasannya, jalur tersebut digunakan untuk mengangkut batu bara dari area tambang atau jetty menuju kapal induk atau mother vessel atau kapal induk di pelabuhan laut.

“Gangguan terhadap transportasi pengiriman batubara ini tentunya juga akan berdampak terhadap kenaikan harga jika volume ketersediaan batu bara jauh lebih kecil dibandingkan dengan volume permintaan dari negara pembeli,” kata Sudirman ketika dihubungi, Kamis (3/9/2026).

Pengiriman batu bara dari tambang di wilayah Kalimantan Tengah sebelumnya dilaporkan terganggu, sebab sungai Barito yang menjadi jalur pelayaran kapal tongkang pengangkut batu bara mengalami pendangkalan dan kekeringan imbas fenomena El Niño.

Dalam laporan Argus Media dijelaskan terjadi penurunan kedalaman sungai yang dapat membatasi pergerakan batu bara dari lokasi tambang menuju terminal ekspor.

Argus Media juga mencatat sejumlah produsen menyatakan force majeure atas pengiriman.

“Rendahnya permukaan air di Sungai Barito telah memaksa sejumlah produsen menyatakan force majeure atas pengiriman, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap ketersediaan ekspor ketika El Niño yang kuat mengancam memperpanjang kondisi kering,” tulis Argus, Rabu (2/9/2026).

Argus Media mencatat tambang batu bara di wilayah Kalimantan Tengah memproduksi batu bara kalori menengah hingga tinggi, dengan beberapa tambang memproduksi hingga 100.000 ton batu bara per bulan.

Sepanjang tahun lalu, sekitar 45,78 juta ton batu bara di produksi dari wilayah tersebut dan sekitar 29,54 juta ton di antaranya diekspor.

“Sebagian wilayah hulu Sungai Barito telah sepenuhnya tidak dapat dilalui kapal, dengan sejumlah perusahaan tambang di wilayah tersebut sudah menyatakan force majeure atas pengiriman akibat kondisi tersebut,” ungkap Argus Media.

Sekadar informasi, Argus Media mencatat harga batu bara Indonesia yang terekam dalam Indonesia Coal Index (ICI) 1 per 21 Agustus 2026 atau batu bara dengan nilai kalori 6.500 kcal/kg GAR sebesar US$127.44 per ton.

Kemudian, harga batu bara ICI 2 dengan nilai kalori 5.800 kcal/kg GAR tercatat sebesar US$103.04 per ton. Selanjutnya, ICI 3 dengan nilai kalori 5.000 kcal/kg GAR tercatat sebesar US$84.52 per ton.

Selanjutnya, harga batu bara ICI 4 nilai kalori 4.600 kcal/kg GAR tercatat sebesar US$65.65 per ton. Sedangkan harga batu bara ICI 5 dengan nilai kalori 3.400 kcal/kg GAR dibanderol sebesar US$40.71 per ton.

Adapun, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat realisasi produksi batu bara sepanjang Januari—Juni 2026 mencapai 367,06 juta ton atau sekitar 61,18% dari kuota produksi RKAB 2026 yang sekitar 600 juta ton.

Direktur Pembinaan Pengusahaan Batu Bara Kementerian ESDM Asep Kurnia Permana mencatat batu bara yang dipasok ke pasar domestik melalui skema domestic market obligation (DMO) mencapai 81,58 juta ton pada rentang yang sama.

Sementara itu, ekspor batu bara dilaporkan mencapai 231,06 juta ton atau setara dengan US$14,09 miliar pada semester I-2026.

Berdasarkan negara tujuannya, ekspor batu bara sepanjang Januari—Juni 2026 paling besar ke China dengan volume 87 juta ton, diikuti India 43 juta ton, dan Filipina 19 juta ton.

Adapun, Kementerian ESDM memangkas target produksi batu bara pada tahun ini di dalam RKAB 2026. Produksi batu bara pada RKAB 2026 menjadi sekitar 600 juta ton, turun dari realisasi produksi pada 2025 sebanyak 817,48 juta ton.

(azr/wdh)

No more pages