Dia meyakini kendala yang terjadi di IMIP bakal memengaruhi peta suplai nikel global, sebab Indonesia menjadi salah satu negara eksportir nikel terbesar di dunia.
Wahyu menilai setiap gangguan pasokan di kawasan industri sebesar IMIP akan langsung terasa di pasar internasional.
“Penurunan suplai dari Indonesia berpotensi memperketat ketersediaan bahan baku nikel global—terutama untuk kebutuhan industri baja nirkarat dan rantai pasok baterai kendaraan listrik — sehingga memaksa pembeli internasional untuk mencari alternatif pasokan yang terbatas atau mengandalkan cadangan yang ada,” tegasnya.
Sekadar catatan, Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Sulawesi Tengah mencatat ekspor Sulawesi Tengah sepanjang 2025 mencapai US$ 22,32 miliar, tumbuh 5,14% dibandingkan dengan 2024 yang senilai US$ 21,22 miliar.
Kabupaten Morowali menjadi pusat aktivitas perdagangan luar negeri Sulteng. Pelabuhan Bahodopi dan Morowali mencatat nilai ekspor gabungan US$ 18,08 miliar atau sekitar 81% dari total ekspor Sulteng pada tahun lalu.
Dari sisi komoditas, ekspor Sulteng masih didominasi produk besi dan baja dengan pangsa 61,31%, disusul nikel sebesar 16,59%. FeNi, NPI, dan berbagai produk turunan logam menjadi bagian dari komoditas utama ekspor Sulteng.
Sementara itu, dua komoditas andalan ekspor berbasis nikel dari kawasan IMIP yakni baja nirkarat dan mixed hydroxide precipitate (MHP).
Di tingkat nasional, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat volume ekspor produk nikel pada Januari—Juli 2026 mencapai 1,16 juta ton.
Ekspor produk nikel yang tercatat dalam kode HS 75 (nickel and articles thereof) tercatat paling banyak dikirim ke China dengan volume sekitar 1,07 juta ton atau setara dengan 92,73% dari total ekspor produk nikel Indonesia pada periode tersebut.
Adapun, IMIP sebelumnya mengamini kawasan basis nikel di Sulawesi Tengah itu tengah terdampak fenomena El Niño pada tahun ini, sehingga berpotensi menurunkan produksi dari smelter di sentra industri tersebut sekitar 30%—40%.
Head of Media Relations IMIP Dedy Kurniawan tidak menampik fenomena El Niño mengakibatkan terjadinya kekeringan di Morowali, Sulawesi Tengah hingga memengaruhi operasional smelter nikel yang menggunakan air dalam proses produksinya.
Dia menyatakan sumber daya air menjadi salah satu sumber energi utama penyokong operasional smelter nikel hidrometalurgi berbasis high pressure acid leaching (HPAL), pabrik produksi kokas atau coke, serta pendukung pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
“Mengenai faktor El Niño, kondisi cuaca yang lebih kering dan panjang diketahui menyebabkan penurunan potensi curah hujan di Indonesia, termasuk di lingkup Kecamatan Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah sebagai lokasi operasional industri IMIP. Hal ini karena El Niño memengaruhi debit air sungai,” kata Dedy ketika dihubungi Bloomberg Technoz, Rabu (2/9/2026).
“Ditaksir dari keseluruhan operasional industri di IMIP, El Niño melambatkan laju produksi hingga mengakibatkan 30%—40% penurunan produksi,” tegas Dedy.
Kendati begitu, dia menegaskan dampak dari fenomena El Niño tidak membuat operasional smelter di kawasan IMIP sampai terhenti ataupun melakukan pengurangan tenaga kerja.
“Kendala dari ekses gangguan iklim masih dapat dikontrol tanpa berimbas lebih besar bagi kesejahteraan pekerja,” ungkap Dedy.
Terpisah, MySteel melaporkan produsen kokas di kawasan IMIP terdampak kekeringan akibat fenomena El Niño, hingga membuat produksinya menurun.
Berdasarkan survey yang dilakukan MySteel, beberapa produsen kokas menerapkan tambahan pembatasan produksi sebesar 10%—20% di atas pengurangan produksi yang sudah terjadi.
Dengan begitu, tingkat produksi kokas di kawasan IMIP hanya dapat mencapai 50%—60% dari kapasitas.
“Produsen kokas, yang mengoperasikan pabrik di Kawasan Industri Tsingshan di Provinsi Sulawesi Tengah, makin memperdalam pemangkasan produksi seiring kekeringan yang terkait dengan fenomena El Niño yang makin memperketat pasokan air yang dibutuhkan untuk produksi, menurut survei terbaru Mysteel,” tulis MySteel dalam risetnya.
PT IMIP sendiri merupakan perusahaan pengelola kawasan industri berbasis nikel yang terletak di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.
Kawasan Industri IMP terintegrasi dengan produk utama yang dimiliki berupa nikel, baja nirkarat, baja karbon, dan yang terbaru adalah bahan baku baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).
Kawasan Industri IMIP adalah kerja sama antara perusahaan BintangDelapan Group dari Indonesia dengan perusahaan Tsingshan Steel Group dari China.
Pemegang saham IMIP didominasi oleh Shanghai Decent Investment Group dengan porsi 49,69%, PT Sulawesi Mining Investment (SMI) sebesar 25%, dan PT Bintang Delapan Investama sebesar 25,31%.
Sejak awal mula proyek industri nikel ini, nilai investasi di kawasan ini telah mencapai US$7,1 miliar. Di sana, terdapat setidaknya 11 smelter nikel dengan kapasitas 40 line.
Menyitir data Auriga Nusantara, terdapat setidaknya terdapat 9 perusahaan asal China di IMIP, baik yang mengoperasikan pabrik pengolahan atau smelter maupun pembuatan baja nirkarat dan juga bahan baku baterai kendaraan listrik.
Perusahaan itu a.l. PT Indonesia Guang Ching Nickel and Stainless Steel Industry (GCNS); Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS); Tsingshan Steel Indonesia (TSI); Indonesia Ruipu Nickel and Chrome Alloy (IRNC); PT Dexin Steel Indonesia (DSI); Hengjaya Nickel Industry (HNI); Ranger Nickel Industry (RNI); Huayue Nickel & Cobalt (HYNC); PT Gunbuster Nickel Industry; dan Qing Mei Bang New Energy Materials Indonesia (QMB).
(wdh)




























