Kendati demikian, mereka menambahkan, sebagian peningkatan rasio keuangan itu disebabkan karena peningkatan tajam pada sisi loan-to-deposit ratio atau dana pihak ketiga (DPK) menjadi 104% pada kuartal II-2026.
“Kemajuan dalam penyaluran dana pemerintah, serta kemampuan bank untuk menempatkan dana tersebut pada tingkat imbal hasil yang tinggi melalui Bank Indonesia (BI), akan menjadi faktor penting yang menentukan NIM, selain penyaluran dana secara komersial,” dikutip dari riset JP Morgan.
Selain itu, provisi (326 bps gross, 199 bps net) menjadi faktor positif yang signifikan untuk BBRI, terlebih aset quality selama ini menjadi salah satu penggerak utama harga saham. Sementara itu, cost-to-income ratio (CIR) BBRI sebesar 41,5% relatif lebih baik dari perkiraan JP Morgan.
Rasio non-performing lon (NPL) turun tipis menjadi 2,9%, sementara coverage ratio sedikit berubah menjadi 180%. Loans at risk (LAR) turun 52 bps q/q menjadi 9,2%, sedangkan LAR coverage meningkat menjadi 57%.
“Penyaluran Kupedes kembali mengalami percepatan setelah mencapai titik terendah, menjadi Rp15,6 triliun pada kuartal II-2026 dibandingkan Rp15 triliun pada kuartal I-2026. Ini kenaikan kuartalan pertama dalam enam kuartal yang cukup menjanjikan,” dikutip dari riset yang sama.
Kendati demikian, kemampuan BBRI untuk meneruskan kenaikan cost of funds kepada debitur relatif terbatas karena sebagian besar portofolionya terdiri dari pinjaman dengan suku bunga tetap dan semi-tetap.
Selain itu, BBRI sedang meningkatkan pertumbuhan kredit korporasi, yang memiliki yield lebih rendah. Dengan demikian, tekanan terhadap NIM (NIM compression) kemungkinan akan terjadi.
“Namun, sebagian besar penurunan tersebut tampaknya sudah tercermin dalam harga saham (priced in) sejak munculnya kabar mengenai penurunan loan yield PNM,” dikutip dari riset JP Morgan.
Dalam beberapa hal, pemangkasan besar terhadap proyeksi konsensus pasar dapat menjadi clearing event, setidaknya dalam jangka pendek, karena hal tersebut dapat menyebabkan revisi turun berhenti sementara.
Jika dikombinasikan dengan valuasi yang berada lebih murah dari -2 standar deviasi (-2SD), kondisi tersebut berpotensi memicu rebound atau reli taktis pada saham.
“BBRI memiliki modal yang melebihi kebutuhan pertumbuhan. Oleh karena itu, kami memperkirakan rasio pembagian dividen (payout ratio) akan tinggi,” dikutip dari riset JP Morgan.
Adapun, JP Morgan menyematkan target saham BBRI mencapai Rp3.400 per saham untuk Juni 2027. Proyeksi itu didasarkan pada fair P/BV sebesar 1,24 yang diperoleh melalui metode dividend discount model dengan asumsi Normalized RoE 17,4%, risk-free rate 7%, cost of capital 15,4% dan terminal growth rate 7%.
Setali tiga uang, BNI Sekuritas turut menyematkan padangan positif untuk saham BBRI dengan memasang target Rp4.500 per saham dalam horizon 3 bulan.
Menurut BNI Sekuritas, valuasi BBRI relatif murah dengan foward PBV 1 tahun 1,4 kali dan foward PE 1 tahun 8 kali, masing-masing berada sekitar 2 standar devisasi di bawah rata-rata lima tahun.
“Sementara itu, kekhawatiran terhadap kualitas aset tampaknya mulai mereda, tercermin dari tren penurunan pembentukan NPL,” dikutip dari riset BNI Sekuritas yang disusun Yulinda Hartanto, Ilham Firdaus dan Vera Yap pada 31 Agustus 2026.
Double Digit
Sebelumnya, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Hery Gunardi menyebut pertumbuhan bisnis BBRI kembali menguat pada semester I-2026. Hal itu tercermin dari pertumbuhan laba yang mencapai 17,5% secara tahunan.
Hery menilai kinerja tersebut menunjukkan momentum pertumbuhan BRI (BBRI) telah kembali, dengan tetap menjaga kualitas pertumbuhan dan prinsip kehati-hatian.
“Kinerja kami, growth is back, strong, bisa dilihat pertumbuhan laba yang cukup bagus, kualitas pertumbuhan dari sisi disiplin pertumbuhan tetap kami jaga dan kami yakin ke depan,” kata Hery dalam konferensi pers Paparan Kinerja Triwulan II 2026 secara daring pada Senin (31/8/2026).
Hingga semester I-2026, BBRI mencatat laba bersih konsolidasian sebesar Rp31,2 triliun, tumbuh 17,5% secara tahunan. Pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh peningkatan bisnis, perbaikan kualitas aset, serta efisiensi yang dilakukan perseroan.
Total aset BBRI mencapai Rp2.352 triliun, tumbuh 11,7% secara tahunan. Sementara itu, kredit tumbuh lebih agresif sebesar 16,2% menjadi Rp1.646 triliun.
Sebagai bank dengan fokus utama pada UMKM, portofolio kredit segmen tersebut tetap mendominasi dengan nilai Rp1.235,4 triliun, tumbuh 8,6% secara tahunan. BBRI juga melakukan diversifikasi melalui pertumbuhan kredit konsumer, small and medium, komersial, dan korporasi.
Dari sisi pendanaan, DPK BRI meningkat 6,7% secara tahunan menjadi Rp1.580,7 triliun. Pertumbuhan terutama berasal dari dana murah, dengan giro tumbuh 8,5% dan tabungan 11,3%, sedangkan deposito hanya tumbuh 0,2%.
Komposisi tersebut membuat rasio CASA meningkat dari 65,5% menjadi 67,6%. Perbaikan struktur pendanaan juga menekan cost of fund bank only dari 3% pada kuartal II 2025 menjadi 2,4% pada kuartal II 2026.
Dari sisi kualitas aset, rasio NPL BRI membaik dari 3,07% menjadi 2,9%. Sementara itu, LAR turun dari 9,6% pada Desember 2025 menjadi 9,1% pada Juni 2026. Cost of credit juga turun dari 3,4% menjadi 3,1%.
Perbaikan tersebut berjalan bersamaan dengan peningkatan pendapatan. Net interest income BRI tumbuh 9,9% secara tahunan menjadi Rp80,5 triliun, sedangkan Pre-Provision Operating Profit (PPOP) meningkat 12,8% menjadi Rp65,7 triliun.
(naw)



























