Logo Bloomberg Technoz

Adapun antisipasi Bank Indonesia ini dilatarbelakangi oleh aksi jual masif yang melanda pasar surat utang global.

Aksi jual tersebut memicu kenaikan serentak pada imbal hasil obligasi pemerintah di berbagai negara maju, yang dipicu oleh kekhawatiran inflasi sektor energi, pembengkakan utang pemerintah, serta sinyal pengetatan moneter dari bank-bank sentral utama dunia.

Di Amerika Serikat, imbal hasil surat utang pemerintah (US Treasury) tenor 10-tahun melonjak hingga menyentuh 4,78% pada Kamis (1/9/2026), yang menjadi level tertinggi baru sejak awal tahun 2025. Sementara itu, tenor 30-tahun merambat naik ke kisaran 5,25%.

Pelepasan besar-besaran aset obligasi AS ini dipicu oleh kecemasan investor terhadap ketegangan geopolitik AS-Iran yang melipatgandakan risiko inflasi akibat lonjakan harga minyak dunia, sekaligus memperkuat spekulasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve pada pertemuan September 2026.

Tekanan serupa terjadi di kawasan Asia. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (Japanese Government Bond/JGB) tenor 10-tahun menembus angka 3,02% pada Rabu (2/9/2026).

Angka ini mencatatkan rekor tertinggi dalam 30 tahun terakhir atau sejak 1996, yang didorong oleh sinyal kuat Gubernur Bank of Japan (BOJ), Kazuo Ueda, terkait rencana kenaikan suku bunga acuan demi menahan laju inflasi akibat pelemahan yen dan tingginya biaya impor energi.

Pasar obligasi di Eropa dan Inggris pun tidak luput dari gelombang aksi jual global (global bond rout). Gangguan pasokan energi di Selat Hormuz selama beberapa bulan terakhir memaksa Bank Sentral Eropa (ECB) menaikkan suku bunga acuan ke level 2,25%. Langkah tersebut turut menekan Bank of England (BoE) untuk memperketat kebijakan moneternya guna meredam inflasi Eropa yang kembali melampaui target 3%.

Secara keseluruhan, indeks acuan imbal hasil obligasi global yang dilaporkan oleh Bloomberg atau Bloomberg Global Aggregate Yield melonjak hingga mencapai rata-rata 3,72%. 

Capaian tersebut mencatatkan rekor tertinggi bagi pasar utang global sejak krisis keuangan pertengahan 2008, yang berdampak langsung pada peningkatan biaya pinjaman (borrowing cost) bagi korporasi maupun konsumen di seluruh dunia. 

(smr/ell)

No more pages