Logo Bloomberg Technoz

Anggota Dewan Gubernur The Fed Michael Barr mengatakan bank sentral harus menaikkan suku bunga jika inflasi gagal mereda. Ia memperingatkan bahwa tekanan harga berisiko semakin mengakar setelah inflasi berada di atas target selama lebih dari lima tahun. 

"Jika tren data memberi saya keyakinan bahwa inflasi sedang bergerak turun menuju 2%, makaa saya pikir kita dapat memberi sedikit lebih banyak waktu untuk menilai sikap kebijakan kita," kata Barr, seperti dikutip Bloomberg News. 

Namun, ia menambahkan perlambatan laju jika inflasi masih moderat, maka The Fed harus bertindak tegas untuk menaikkan suku bunga. 

Belum lagi, baru-baru ini kenaikan harga minyak mentah Brent yang menyentuh US$95/barel kembali menambah risiko inflasi global, tak cuma di AS. 

Tekanan Inflasi

Inflasi Indonesia pada Agustus kembali menghangat di 3,19% yoy, setelah pada Juli lalu melandai di 2,88% yoy. Kenaikan yang dipicu oleh melambungnya harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau ini juga menyalakan kembali alarm risk-off  di pasar domestik. 

Dengan tekanan harga minyak, sejumlah pihak memperkirakan inflasi masih akan meninggi. Maybank memperkirakan inflasi berpotensi meningkat dalam beberapa bulan mendatang. 

"Kami mempertahankan perkiraan inflasi umum setahun penuh 2026 sebesar 3,5% sebelum melambat menjadi 3% pada2027. Dalam delapan bulan pertama 2026, inflasi rata-rata adalah 3,4%," kata Brian Lee, Analis Maybank, dalam catatannya. 

Ia menyebut inflasi pangan berpotensi mendapatkan tekanan akibat adanya gangguan cuaca El Nino, yang semakin intensif pada paruh kedua 2026. 

Pandangan serupa datang dari UOB yang memperkirakan inflasi pangan yang berfluktuasi tetap jadi kerentanan utama.

"Gangguan pasokan yang memengaruhi beras, cabai, ikan, dan unggas diperparah oleh meningkatnya permintaan institusi terhadap bahan pangan pokok," kata Enrico Tanuwidjaja, Ekonom UOB. 

Ia menambahkan tekanan ini dapat mempersulit upaya pemerintah dalam menstabilkan harga pangan, khususnya di tingkat regional. 

Selain itu, Enrico memperkirakan ketegangan geopolitik Timur Tengah tetap jadi risiko utama yang dapat meningkatkan inflasi, terutama melalui kenaikan harga energi, biaya logistik, dan tarif transportasi domestik. 

"Kami memperkirakan inflasi rata-rata 2,5% pada 2026, sebelum menguat menjadi 3% pada 2027, didorong oleh permintaan domestik yang lebih kuat, aktivitas ekonomi yang lebih tinggi, serta normalisasi harga sektor jasa dan administrasi," kata Enrico. 

Sementara itu, Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI) Faisal Rachman menilai tekanan inflasi awalnya dirasakan oleh dunia usaha akibat kenaikan harga bahan baku seiring konflik di Timur Tengah. Dunia usaha kemudian terpaksa menaikkan harga jual di level konsumen.

"Ditambah dengan El Nino Godzilla yang harus terus dipantau, karena dapat menciptakan gangguan produksi pangan, membuat harga naik, dan membuat tekanan inflasi kian intensif," sebut Faisal.

Namun, lanjut Faisal, keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi bisa membantu meredakan ancaman inflasi. Faisal memperkirakan inflasi pada akhir 2026 di kisaran 3,13%, sedikit lebih tinggi ketimbang 2025 yang sebesar 2,95%.

(dsp/aji)

No more pages