Di sisi lain, sejumlah komoditas hortikultura memberikan andil terhadap deflasi pada Agustus 2026. Bawang merah memberikan andil deflasi sebesar 0,06%, tomat 0,05%, bawang putih 0,02%, dan bayam 0,01%.
Ateng menegaskan, pergerakan harga pangan tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan fenomena El Nino. Sebab, terdapat berbagai faktor yang saling berkaitan dan turut menentukan harga komoditas pangan di pasar.
"Karena itu dampak fenomena iklim seperti El Nino ini tidak berdiri sendiri. Tentunya ini perlu dilihat secara komprehensif," jelasnya.
Menurut dia, sejumlah faktor yang perlu diperhatikan antara lain dinamika produksi, keseimbangan pasokan dan permintaan, kelancaran distribusi, ketersediaan pasokan di pasar, hingga pola konsumsi masyarakat.
Selain itu, BPS disebutnya juga menemukan kondisi pengairan di sejumlah daerah masih berjalan dengan baik sehingga potensi produksi pangan, termasuk padi, masih tersedia. Namun, terdapat pula wilayah yang sistem pengairannya berpotensi terdampak kondisi iklim.
"Saya dari beberapa daerah Alhamdulillah ya, ada beberapa daerah yang ternyata pengairannya masih jalan. Artinya beberapa daerah itu masih ada potensi di padinya."
"Walaupun demikian, ada beberapa daerah yang mungkin ketika saat pengairannya itu masih terpengaruh oleh iklim. Nah ini yang perlu untuk diperhatikan," tuturnya.
Selain produksi dan pengairan, Ateng menekankan pentingnya menjaga kelancaran arus distribusi pangan agar perubahan kondisi produksi di suatu daerah tidak langsung menekan harga di pasar.
BPS, lanjutnya, juga secara rutin melakukan rapat koordinasi inflasi setiap pekan yang melibatkan seluruh daerah di Indonesia bersama Kementerian Dalam Negeri dan kementerian terkait untuk langkah-langkah mitigasi.
(lav)






























