“Rencana pendanaan itu akan memiliki hak opsi konversi sebagaimana ditentukan di kemudian hari dalam dokumentasi definitif,” kata Indah.
Rencanannya, VKTR akan menggunakan utang itu untuk pembiayaan pengadaan bus listrik dan tujuan lainnya yang akan disepakati dengan Danantara dalam dokumen definitif.
Seiring dengan penjajakan opsi utang itu, Bakrie Metal Industries memborong 3 miliar saham VKTR pada 28 Agustus 2026 lalu. Saat itu, salah satu lengan investasi grup Bakrie tersebut memborong saham VKTR di harga Rp100 per saham.
Bakrie Metal Industries mengeluarkan dana Rp300 miliar untuk mempertebal kepemilikan saham di VKTR. Selepas aksi borong itu, Bakrie Metal Industries kini menguasai 9,21 miliar saham VKTR atau setara dengan 21,06% dari saham beredar. Sementara itu, BNBR menguasai 10,68 miliar saham VKTR atau setara 24,41%.
Berdasarkan data KSEI, Glencore International Invvestments dan Envision Green Energy Indonesia turut menghimpit saham VKTR. Glencore menguasai 1,44 miliar saham (3,29%) dan Envision sekitar 678,87 juta saham (1,55%).
Sinyal Prabowo
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto meresmikan pabrik perakitan kendaraan listrik milik VKTR di Magelang, Jawa Tengah, Kamis (09/04/2026).
Prabowo mengapresiasi inisiatif kendaraan listrrik yang didorong VKTR. Prabowo berharap VKTR dapat menjadi salah satu “national champion” Indonesia di sektor otomotif, sejajar dengan perusahaan global.
“Kalau Jepang punya Isuzu, punya Hino, kalau Korea punya Hyundai, Daewoo, saya berharap berapa tahun lagi kita akan menganggap, melihat VKTR sebagai salah satu champion dari Indonesia,” kata Prabowo.
VKTR telah menjalin kemitraan dengan sejumlah karoseri nasional seperti Tri Sakti, Laksana, Adiputro, Tentrem, dan Mekar Armada Jaya, serta mitra pelanggan strategis termasuk PT Transjakarta yang memiliki visi mengelektrifikasi 10.000 unit busnya dan PT Blue Bird Tbk.
Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) juga telah mempercayakan VKTR untuk mengelektrifikasi 14 unit truk compactor dan arm-roll untuk pengelolaan sampah. Uji coba kendaraan listrik juga tengah berjalan bersama PT Semen Indonesia Logistik dan Perhutani.
Di bidang inovasi, kerja sama VKTR dengan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) telah menghasilkan 14 hak cipta bersama yang mencakup berbagai aspek mobilitas listrik, mulai dari solusi retrofit sepeda motor hingga sistem manajemen armada cerdas.
Kolaborasi dengan Universitas Sebelas Maret (UNS) melahirkan 2 hak cipta bersama tentang formulasi material baterai berbasis nikel yang mendukung hilirisasi nikel di Indonesia.
Wakil Komisaris Utama VKTR Anindya N. Bakrie menilai transisi menuju transportasi rendah emisi membutuhkan konsistensi investasi dan eksekusi yang kuat. Menurut dia, industri kendaraan listrik tidak cukup hanya dibangun dengan ambisi.
“Kami ingin memastikan bahwa 2026 menjadi fase percepatan, di mana kendaraan listrik Indonesia tidak hanya tumbuh sebagai industri, tetapi menjadi solusi nyata bagi mobilitas nasional yang lebih efisien, kompetitif, dan berkelanjutan,” kata Anindya lewat siaran pers.
Laba Merosot
Laba bersih VKTR merosot 76,18% menjadi Rp1,12 miliar sepanjang semester I-2026. Porsi laba bersih itu anjlok dari torehan periode yang sama tahun lalu sekitar Rp4,73 miliar.
Padahal, VKTR mencetak laba neto konsolidasi yang impresif sekitar Rp10,08 miliar, naik 25% dari posisi laba konsolidasi periode yang sama tahun lalu sekitar Rp8,05 miliar.
Hanya saja, bagian laba yang jadi milik pemegang saham VKTR hanya tinggal Rp1,12 miliar.
Alasannya, sebagian besar laba neto itu justru lari ke kepentingan nonpengendali sekitar Rp8,95 miliar, mengambil porsi 88,84% dari total laba neto paruh pertama tahun ini.
Konsekuensinya, kepentingan nonpengendali menumpuk saldo positif sekitar Rp217,73 miliar setelah tambahan laba neto tersebut. Sementara itu, VKTR justru mencatat posisi saldo defisit yang masih lebar Rp78,67 miliar.
Anomali itu tercermin dari laba per saham dasar atau earning per share (EPS) VKTR yang merosot menjadi Rp0,03 di tengah kenaikan kinerja penjualan dan laba bruto perusahaan. Sebelumnya, laba per saham dasar VKTR berada di level Rp0,08.
Rasio EPS itu biasanya dipakai untuk mengukur besarnya laba yang dapat diatribusikan kepada setiap lembar saham biasa perusahaan. EPS dihitung dengan membagi laba yang tersedia bagi pemegang saham biasa dengan rata-rata tertimbang jumlah saham biasa yang beredar.
Bisanya, laba bersih yang dipakai adalah laba bersih setelah pajak dikurangi dividen saham preferen.
Padahal, VKTR mencetak penjualan neto Rp646,62 miliar sepanjang semester I-2026, naik 56,2% dari posisi penjualan Januari-Juni 2025 sekitar Rp414,04 miliar.
Pendapatan VKTR berasal dari perdagangan komponen suku cadang dan besi bekas dengan pihak ketiga sekitar Rp533,53 miliar dn penjualan kendaraan bermotor listrik berbasis bateri dengan pihak ketiga sebesar Rp114,72 miliar.
Sejumlah pelanggan VKTR itu di antaranya PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors, PT Mitsubishi Motor Krama Yudha Indonesia, Perusahaan Umum Damri dan PT Hino Motors Manufacturing Indonesia.
Sementara itu, beban pokok penjualan ikut naik ke level Rp534,17 miliar. Posisi beban itu menyisakan laba bruto Rp112,44 miliar, naik dari torehan tahun lalu sekitar Rp79,12 miliar. Setelah dikurangi beban usaha laba yang terisa menjadi Rp16,02 miliar.
Besarnya porsi laba untuk kepentingan nonpengandali disebabkan karena VKTR hanya memegang sebagian saham di PT VKTR Sakti Industries (VSI) dan PT Braja Mukti Cakra (BMC) yang belakangan berkontribusi signifikan pada struktur pendapatan perseroan.
VKTR hanya memegang 50% saham BMC lewat PT Bakrie Autoparts. Sementara itu, VKTR memegang 60% saham VSI dan sisanya dipegang Widodo.
(naw)



























