Kenaikan harga pangan menjadi keniscayaan, di tengah kondisi gangguan pasokan akibat ketidakpastian geopolitik, yang juga menyebabkan kenaikan harga minyak mentah, dan merembet pada kenaikan bahan bakar nonsubsidi. Belum lagi, adanya gangguan musim yang terjadi akibat fenomena El Nino, turut mengakselerasi laju inflasi pada bulan ini.
Selain kelompok pangan, inflasi juga didorong oleh kenaikan harga pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, yang mencapai 9,25%. Kelompok ini terdiri dari komoditas emas dan perhiasan. Selanjutnya, kelompok pengeluaran transportasi juga ikut mengalami inflasi sebesar 4,79% dengan andil inflasi 0,58%.
Kelompok transportasi menjadi salah satu kontributor terbesar terhadap inflasi tahunan. Meski secara bulanan kelompok ini justru mengalami deflasi 0,5% dengan andil deflasi 0,06 poin persentase. Hal ini menggambarkan bahwa tekanan transportasi lebih merupakan akumulasi kenaikan harga sepanjang tahun daripada sumber inflasi baru pada Agustus.
Daya Beli Tertekan
Agaknya, inflasi Indonesia saat ini terdorong oleh naiknya harga kebutuhan dasar. Ketika harga makanan meningkat, dampaknya langsung terasa pada daya beli masyarakat. Sebab, kelompok ini punya bobot besar dalam konsumsi rumah tangga.
Walaupun inflasi masih berada di rentang target BI, namun data BPS lainnya menunjukkan bahwa Indeks Harga Produsen (IHP) pada kuartal II-2026 sempat naik 5,62% yoy, begitu juga IHPB nasional pada Juli juga masih tinggi dengan kenaikan 5,66% yoy, dengan kenaikan antara lain solar industri, Elpiji non-subsidi, beras, minyak pelumas, dan minyak goreng.
Dengan begitu, inflasi yang terjadi pada Agustus merupakan transmisi kenaikan harga yang terjadi di tingkat produsen dan perdagangan.
Begitu juga dengan jika kenaikan harga juga terjadi pada kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran yang mencatat inflasi tahunan sebesar 2,67% pada Agustus, dengan inflasi tahunan 0,22%. Kenaikan harga bahan baku sudah diteruskan ke harga makanan yang dikonsumsi konsumen di restoran.
Kenaikan harga di tingkat produsen tersebut berpotensi membuat inflasi bertahan tinggi lebih lama. Ekonom Bloomberg Economics Tamara Henderson memperkirakan tren kenaikan inflasi akan terus berlanjut.
"Harga energi yang lebih tinggi mulai berdampak di sepanjang rantai pasok. Pelemahan rupiah dan dampak El Nino juga akan menambah tekanan terhadap harga," kata Henderson dalam catatannya.
Ia menambahkan, kombinasi tersebut berpotensi mendorong inflasi melampaui batas atas target BI sebelum akhir tahun.
Lantas, apa kabar daya beli masyarakat?
Merujuk pada data terbaru Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juli turun menjadi 116,8 dari posisi bulan sebelumnya yakni 117,8. Penurunan juga terjadi pada dua penopangnya. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) turun dari 109,2 menjadi 107,9, sedangkan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) turun dari 126,4 menjadi 125,7.
Kelompok kelas menengah dengan pengeluaran Rp3,1 juta-4 juta per bulan mengalami kemerosotan IKK paling tajam. IKK kelompok ini turun 4,9 poin, dari 117,1 pada Juni menjadi 112,2 pada Juli. Penurunannya jauh lebih dalam dibandingkan penurunan IKK nasional yang hanya 1 poin.
Pelemahan tersebut terjadi pada kondisi ekonomi saat ini sekaligus ekspektasi ke depan. IKE kelompok ini turun 6,4 poin. Persepsi terhadap penghasilan saat ini turun 4,9 poin, ketersediaan lapangan kerja juga turun 5,7 poin, dan indeks pembelian barang tahan lama ikut anjlok 8,5 poin. Bahkan, indeks pembelian barang tahan lama kelompok ini turun ke 96,2, masuk zona pesimis.
Hal ini juga tercermin dalam Indeks Penjualan Riil (IPR) Juni 2026, yang tercatat sebesar 225,0 atau turun sebesar 3,0% secara year-on year/yoy. Kelompok yang mencatatkan kontraksi, terdiri dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang terkontraksi 3,6% yoy serta subkelompok sandang yang terkontraksi 3,1% yoy.
Dari data tersebut tergambar bahwa harga kebutuhan dasar terus meningkat, sementara persepsi terhadap pendapatan, lapangan kerja, dan kemampuan membeli barang tahan lama justru melemah.
Jika tidak tertangani dengan baik, kondisi pelemahan daya beli ini dapat terus menggerus kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia yang selama ini tertopang oleh konsumsi masyarakat.
Arah BI Rate
Inflasi yang menghangat, meski masih berada di rentang target BI dapat menjadi lampu kuning bagi bank sentral. Meski begitu, menurut Henderson, kenaikan inflasi Agustus belum cukup untuk menjadi alasan BI menaikkan suku bunga.
"Selama inflasi masih berada dalam koridot target dan pemerintah tetap memberikan bantalan melalui subsidi, tekanan harga kemungkinan belum menjadi faktor utama yang mendorong pengetatan moneter," kata Henderson.
Sejalan dengan Henderson, Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI) Josua Pardede mengatakan inflasi yang berasal dari pangan dan harga yang diatur pemerintah masih dapat direspons melalui stabilisasi pasokan dak kebijjakan pemerintah, bukan menaikkan suku bunga.
Akan tetapi, apabila inflasi inti ikut naik secara persisten diikuti dengan pelemahan rupiah secara tajam, dan ekspektasi inflasi memburuk, maka Josua memperkirakan BI memiliki alasan lebih kuat untuk menaikkan BI Rate.
"Saya melihat BI akan menggunakan nilai tukar sebagai penentu utama keputusan September. Selama rupiah masih dapat dijaga di bawah sekitar Rp18.000–18.100/US$, arus modal tetap masuk, dan inflasi inti terkendali, maka mempertahankan BI Rate di 5,75% lebih masuk akal," kata Josua.
Kala data inflasi diumumkan, pergerakan rupiah relatif terkendali meski melemah tipis 0,03% ke Rp17.725/US$. Dengan begitu, wajar kiranya jika pasar berekspektasi bahwa BI Rate tak akan dinaikkan, dan tetap berada di 5,75% dalam waktu dekat, setidaknya pada pertemuan Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan ini.
(dsp/aji)





























