Dari luar negeri, rupiah di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) masih defensif. Rupiah sempat dibuka stagnan di posisi Rp17.764/US$, lalu menguat terbatas 0,02% ke Rp17.761/US$. Tak lama berselang, rupiah offshore mampu mempertahankan posisinya dengan penguatan 0,14% ke Rp17.739/US$ pada 07:29 WIB.
Namun begitu, pergerakan rupiah di pasar spot hari ini akan dibayangi oleh rilisnya sejumlah data ekonomi, di antaranya data ekspor-impor, neraca perdagangan, serta data inflasi. Pelaku pasar akan mencermati kinerja perdagangan Indonesia yang diperkirakan melambat dengan capaian ekspor 3,2% pada Juli, dari posisi sebelumnya 8,84% pada Juni.
Perlambatan ini juga diikuti oleh kinerja impor, yang diperkirakan 23,25%, melambat dari kinerja bulan sebelumnya yang sebesar 34,27%. Namun, perlambatan impor ini masih lebih tinggi daripada ekspor, sehingga berpotensi menekan neraca perdagangan.
Kondisi tersebut dapat berimplikasi pada posisi rupiah di pasar. Kemampuan Bank Indonesia (BI) dalam memperoleh cadangan devisa dari jalur perdagangan semakin diuji dengan perlambatan yang terjadi pada kinerja ekspor-impor.
Menurut Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI) Josua Pardede, kerentanan rupiah kemungkinan terus terjadi selama kemampuan Indonesia dalam menghasilkan pasokan devisa masih bergantung pada arus modal asing demi menutup kebutuhan valas, alih-alih dari sektor perdagangan.
Sementara itu, sentimen eksternal dari pasar keuangan AS juga turut berpotensi menambah tekanan pada rupiah. Imbal hasil (yield) obligasi AS, US Treasury tenor panjang 10 hingga 30 tahun naik pada perdagangan kemarin waktu setempat, menyusul komentar hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh di simposium Jackson Hole.
Yield 5 tahun dan 10 tahun sempat mencapai level tertinggi sejak Januari 2025, dengan yield tenor 10 tahun berada di sekitar 4,75%. Tekanan ini terus meningkat dengan adanya serangan AS dan Iran yang kembali memicu kekhawatiran terhadap risiko inflasi.
Kenaikan yield di pasar obligasi AS, terutama tenor panjang, membuat aset berdenominasi dolar menjadi relatif lebih menarik dan berpotensi mengurangi daya tarik yield spread dengan Surat Utang Negara (SUN) maupun obligasi berdenominasi dolar AS (INDON).
Bagi rupiah, kombinasi kenaikan yield US Treasury, ekspektasi suku bunga AS yang kembali tinggi dengan sinyal hawkish The Fed, dan adanya penguatan daya tarik dolar AS berpotensi menambah tekanan bagi rupiah melalui arus modal dan permintaan valas.
Dari pasar surat utang, tekanan sudah terlihat dengan adanya kenaikan yield di sebagian tenor, termasuk tenor 10 tahun menjadi 7,02%, tenor 11 tahun menjadi 7,04%, dan tenor 12 tahun naik menjadi 7,08%. Sementara, tenor 6 tahun naik paling tajam 5,4 basis poin (bps) menjadi 6,97%.
Dalam jangka pendek, Josua memperkirakan rupiah akan bergerak di rentang Rp17.700-18.050/US$.
Analisis Teknikal
Secara teknikal nilai tukar rupiah dibayang-bayangi potensi pelemahan, mencermati berbagai sentimen hingga wait and see pasar, dengan pelemahan terdekat menuju level Rp17.750/US$ yang merupakan support pertama dengan target pelemahan kedua akan tertahan di Rp17.800/US$.
Apabila kembali break kedua support tersebut, berpotensi melemah lanjutan dengan menuju level Rp17.850/US$ sebagai support terkuatnya.
Jika nilai tukar rupiah terjadi penguatan hari ini, resistance menarik dicermati pada level di range Rp17.700/US$ dan selanjutnya Rp17.650/US$.
Adapun rupiah sejatinya masih ada potensi penguatan optimistis lanjutan seiring sentimen pasar yang mulai membaik ke resistance potensialnya ke level Rp17.600/US$ biarpun saat ini masih terbatas peluangnya.
(riset/aji)






























