Kondisi ketat ini diperkirakan akan memburuk setelah Rusia memperpanjang larangan ekspor solar hingga September, serta meningkatnya permintaan di Brasil, importir terbesar kedua di dunia.
Pada saat yang sama, musim dingin yang akan segera tiba di Belahan Bumi Utara diperkirakan akan mendorong permintaan bahan bakar pemanas.
Di Timur Tengah, meski ekspor minyak mentah dari Teluk Persia diperkirakan telah kembali ke level 70% hingga 80% dari level sebelum perang, pengiriman produk olahan minyak masih tertahan di level 40%, ungkap analis Goldman dalam catatan tertanggal 28 Agustus.
"Pemulihan penuh pada aktivitas kilang memerlukan deeskalasi geopolitik global," tambah mereka.
Di pasar berjangka, harga minyak mentah Brent telah melonjak hampir 50% tahun ini, dan terakhir diperdagangkan mendekati US$91 per barel akibat gelombang ketegangan baru di Timur Tengah. Sementara itu, harga gasoil berjangka Eropa telah naik lebih dari dua kali lipat.
Goldman Sachs telah berulang kali menyoroti ketatnya pasokan di pasar produk olahan dalam beberapa bulan terakhir, menyatakan pada Maret bahwa perang antara Iran dan AS diperkirakan akan berdampak jauh lebih besar pada bahan bakar daripada minyak mentah.
Awal bulan ini, mereka kembali menyoroti dampak serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia.
CEO Shell Plc, Wael Sawan, mengatakan pekan lalu bahwa pasar produk minyak sedang tertekan oleh “ancaman tiga lapis” berupa serangan terhadap kilang-kilang Rusia serta bahaya terhadap pelayaran di Teluk Persia dan Laut Merah.
Sementara itu, Patrick Pouyanne dari TotalEnergies SE mengatakan bahwa meski beberapa kargo minyak mentah masih melintasi Selat Hormuz, tidak ada produk olahan yang berhasil keluar.
(bbn)































