Ketiga, data kinerja perdagangan RI yang belum sepenuhnya pulih. Ekspor Juli diperkirakan melambat menjadi 3,2% dari capaian bulan sebelumnya 8,84%. Sementara, kinerja impor yang lebih tinggi daripada ekspor, meski lajunya juga diperkirakan melambat jadi 23,25%.
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI), Josua Pardede, mengatakan dalam jangka pendek rupiah masih akan tertekan di kisaran Rp17.700-Rp18.050/US$, dengan titip berat di sekitar Rp17.800-Rp17.950/US$.
Pekan ini, pergerakan rupiah bukan cuma dibayangi oleh sinyal hawkish, tetapi juga data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis pada Jumat (4/9/2026). Jika data ketenagakerjaan AS melemah, rupiah berpotensi memiliki ruang penguatan di rentang Rp17.500-Rp17.700/US$.
Begitu juga sebaliknya, jika data ketenagakerjaan AS menguat, rupiah diperkirakan terbebani oleh langkah hawkish yang kemungkinan besar akan diambil oleh The Fed untuk menjaga inflasi AS, dengan dukungan data ketenagakerjaan yang positif.
Sementara, dari Asia, sebagian besar mata uang Asia justru mampu mempertahankan penguatan di tengah sentimen hawkish The Fed ini.
Won Korea Selatan berhasil menguat 0,5%, disusul yen Jepang 0,3%, rupee India 0,2%, yuan offshore 0,16%. yuan China 0,15%, dan dolar Singapura 0,13%. Sebaliknya, baht Thailand melemah paling tajam 0,47%, disusul dolar Taiwan 0,19%, dan rupiah 0,16%.
(dsp)


























