Bloomberg Economics memperkirakan inflasi naik menjadi 3,15% secara tahunan. Angka ini masih berada dalam kisaran target Bank Indonesia (BI) yang sebesar 1,5%-3,5%, tertopang oleh subsidi pemerintah yang menahan transmisi inflasi bagi kelompok rumah tangga dari efek rambatan kenaikan harga minyak. Di sisi lain, dampak dari El Nino juga diperkirakan dapat memicu inflasi pangan.
Sementara, data perdagangan belum menunjukkan perbaikan. Ekonom yag disurvei Bloomberg memperkirakan ekspor Agustus melambat menjadi 3,1%, dari posisi sebelumnya 8,84% pada Juli. Begitu juga dengan impor yang diproyeksikan kembali melambat ke 22,17% dari 34,27%.
Hal ini berpotensi menahan laju penguatan rupiah yang sempat terjadi sepanjang Agustus yang tercatat menguat 1,52% hingga Jumat (28/8/2026), sebab sepanjang pekan lalu rupiah sempat tergerus 0,14%.
Namun, pergerakan di pasar obligasi domestik yang masih mencatat aksi beli pada sebagian tenor menengah dan panjang, setidaknya mampu menahan pelemahan rupiah lebih dalam. Sehingga hari ini pergerakan rupiah berpotensi tertahan di rentang Rp17.700-Rp17.800/US$.
(riset)




























