Logo Bloomberg Technoz

Berdasarkan data Sistem Informasi Komando Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi) Kementerian Kehutanan dan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), total luas area yang terbakar pada periode Januari hingga pertengahan Agustus 2026 menembus lebih dari 100.000 hektare—meningkat drastis dari tahun lalu akibat pengaruh cuaca kering.

PHR Padamkan Karhutla di Sekitar Wilayah Operasi Pertamina EP Ramba Field./dok. PHR

Data Sipongi Kemenhut juga menyebutkan bahwa pembakaran lahan—terutama di kawasan tanah gambut—menjadi peyumbang utama lonjakan emisi gas rumah kaca di Indonesia.

Berikut adalah 5 provinsi di Indonesia yang tercatat paling sering dan paling tinggi menyumbang asap karbon akibat karhutla:

1. Kalimantan Tengah

Kalimantan Tengah secara konsisten menduduki posisi puncak wilayah penyumbang emisi karbon karhutla terbesar di Indonesia.

Karakteristik wilayahnya yang didominasi oleh lahan gambut dalam membuat kebakaran di kawasan ini sangat sulit dipadamkan dan melepaskan emisi karbon secara eksponensial.

Data indikator emisi Sipongi Kemenhut mencatat bahwa pada periode kebakaran hebat, Kalimantan Tengah mampu menyumbang emisi lebih dari 150 juta ton CO₂e (karbon dioksida ekuivalen) dalam satu musim kemarau. 

Lahan gambut yang terbakar tidak hanya mengemisi karbon di permukaan, tetapi juga menyimpan bara di bawah tanah yang terus mengepulkan asap.

Berdasarkan laporan pemantauan berkala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), wilayah Kalimantan Tengah mencatatkan fluktuasi titik panas harian yang dinamis, dengan rata-rata 188 hingga 242 hotspot terdeteksi per hari.

Titik-titik panas ini tersebar di beberapa kabupaten dengan dominasi lahan gambut yang membutuhkan perhatian ekstra dan bantuan operasi pemadaman udara (water bombing) sebaran titik panas (hotspot

2. Kalimantan Barat

Posisi berikutnya ditempati oleh Kalimantan Barat. Provinsi ini memiliki rekam jejak panjang terkait dengan akumulasi titik panas dan tingginya volume emisi karbon akibat alih fungsi lahan serta pembakaran yang tidak terkendali.

Sipongi Kemenhut mencatat emisi karhutla dari Kalimantan Barat kerap menyentuh angka 40 hingga 80 juta ton CO₂e.

Angka ini berfluktuasi tergantung pada tingkat keparahan fenomena iklim seperti El Niño yang mengeringkan kawasan hutan sekunder dan gambut.

BNPB melaporkan total sebaran titik panas (hotspot) di Kalimantan Barat mencapai 2.610 titik. Dari jumlah tersebut, terdapat sekitar 198 titik dengan kepercayaan tinggi yang sudah dipastikan berupa titik api (fire spot) aktif, serta 3.100 titik dengan tingkat kepercayaan menengah (berupa kepulan asap). 

Konsentrasi hotspot terbesar terdeteksi di Kabupaten Ketapang, Kubu Raya, Kayong Utara, Sanggau, Sintang, dan Sambas.

3. Riau

Sebagai salah satu episentrum karhutla di Pulau Sumatra, Provinsi Riau menjadi langganan penyumbang emisi karbon nasional.

Keberadaan ekosistem gambut luas yang mengalami pengeringan menjadi pemantik utama besarnya angka karbon yang terlepas.

Berdasarkan historis data Sipongi Kemenhut, kebakaran lahan di Riau rata-rata menyumbang emisi karbon berkisar antara 30 hingga 70 juta ton CO₂e saat kebakaran hebat terjadi.

Asap karbon dari Riau secara historis sering kali terbawa angin lintas batas (cross-border haze), hingga mencapai wilayah Singapura dan Malaysia.

Hal ini menjadikan jejak karbon karhutla Riau tidak hanya menjadi isu lingkungan nasional, tetapi juga geopolitik kawasan.

Di Provinsi Riau, pemantauan titik panas menunjukkan tren penurunan setelah dilakukannya operasi pemadaman intensif dan turunnya hujan di beberapa wilayah.

Berdasarkan data BPBD dan BNPB Riau, titik panas sempat mencapai puncak 306 titik, namun telah berhasil ditekan secara signifikan hingga tersisa sekitar 100 titik hotspot. 

Karhutla Imbas El Nino Sudah Capai 107 Ribu Hektare (Bloomberg Technoz/Asfahan)

4. Sumatra Selatan

Sumatra Selatan terus mencatatkan angka emisi karbon karhutla yang signifikan, terutama dari kawasan konsesi dan lahan gambut di wilayah Ogan Komering Ilir (OKI) serta Musi Banyuasin.

Data Sipongi Kemenhut menunjukkan bahwa Sumsel menyumbang emisi karbon berkisar antara 25 hingga 60 juta ton CO₂e pada periode kemarau panjang. Luasnya bentang lahan kering yang terbakar memicu tingginya konsentrasi karbon di udara.

Provinsi Sumatra Selatan mengalami lonjakan hotspot yang signifikan di mana titik panas harian sempat menembus angka 1.344 titik, dengan total kumulatif sebaran titik panas mencapai 1.438 titik.

Bahkan, secara agregat bulanan, akumulasi hotspot di wilayah ini telah melampaui 1.740 titik. 

Tingginya intensitas kebakaran ini memicu kewaspadaan tinggi pemprov setempat terhadap potensi munculnya kabut asap yang dapat mempengaruhi kualitas udara dan kesehatan masyarakat.

5. Papua Selatan

Papua Selatan muncul sebagai episentrum baru penyumbang emisi karhutla di Indonesia. Bentang alam savana dan rawa gambut yang luas di wilayah ini menjadi sangat rentan terbakar saat musim kemarau melintas.

Dalam beberapa tahun terakhir, Sipongi Kemenhut mencatat emisi karbon dari Papua Selatan melonjak pesat hingga menyentuh angka 20 hingga 45 juta ton CO₂e.

Kebakaran di wilayah ini sebagian besar didorong oleh cuaca kering ekstrem dan aktivitas pembukaan lahan.

Berdasarkan data cakupan wilayah BMKG dan BPBD Papua Selatan setempat, titik panas di paling banyak terkonsentrasi di Kabupaten Merauke yang tercatat 391 titik dan Kabupaten Mappi yang tercatat 275 titik.

(smr/wdh)

No more pages